Sabtu, 14 November 2009

seatbelt vs terowongan


bulan ini banyak sekali hal-hal baru yang dipelajari oleh balqiz. untuk pertama kalinya balqiz bisa duduk sendiri dimobil dan menggunakan seatbelt. kemudian pencapaian terbesar adalah balqiz mau juga ber-ekplorasi dengan 'terowongan'.

selama ini jika bepergian, balqiz belum mau duduk sendiri. maunya dipangku menghadap ke dalam dan berposisi memeluk bunda atau si embak. kalaupun sesekali mau duduk 'hadap depan' (istilah balqiz) itu hanya sebentar saja, begitu misalkan mobil melewati lubang atau nge-rem mendadak, atau berbelok, serta merta balqiz merasa panik dan kembali lagi minta dipangku.

berulang bunda selalu bisikkan jika memangku balqiz, bahwa balqiz sekarang sudah 4 tahun umurnya, sudah besar, badannya pun sudah semakin besar. jadi kalau dipangku pastinya juga semakin berat dan tidak nyaman juga kan kalau duduk dipangku. lebih enak jika duduk sendiri. dan biar balqiz tidak panik, tidak bergerak jika sedang duduk sendiri di mobil nanti balqiz pakai seatbelt.

tidak mudah dan butuh waktu. mengenalkan 'seatbelt' pun juga butuh waktu. sudah bisa ditebak, awal-awal pembelajaran selalu penuh dengan teriakan dan tangis. tak jarang tendangan kaki balqiz pun melayang ke wajah bunda,..

satu kunci dari proses pembelajaran adalah kontinuitas. walau hanya sebentar tetapi tiap bepergian dicoba. minggu ini kejutan buat bunda,.. tanpa perlawanan dan protes binti panik bin tangis,... balqiz sukses duduk sendiri dan menggunakan seatbeltnya. Alhamdulillah,..

lantas, yang bikin kepala bunda pusing plus agak agak memancing emosi di beberapa minggu belakangan adalah kepanikan balqiz setiap hari senin dan selasa. jadwal kegiatan balqiz setiap senin adalah berenang dan jadwal kegiatan hari selasa adalah olahraga.

sebenarnya balqiz senang berenang, hanya saja kolam renang di sekolah memang agak dalam, jadinya balqiz tidak bisa menjejak dasar kolam. itu yang menjadi 'sumber kepanikan' balqiz. jadilah setiap saat mau berenang di sekolah, panik dan nervous bahkan tidak jarang pake acara mun-mun dikelas. walaupun sebenarnya kalau sudah masuk ke dalam air ya dia akan menikmati juga.

tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.....
kepanikan balqiz dihari senin masih bisa dinetralisir sendiri oleh dirinya, tapi tidak untuk hari selasa. sumber kepanikan balqiz adalah 'terowongan'. balqiz sama sekali tidak mau menyentuh apalagi masuk ke dalam terowongan. semakin hari kepanikan balqiz semakin tidak masuk akal. sampai-sampai jika hari selasa tiba, balqiz tidak mau mandi, dengan harapan jika tidak mandi maka tidak berangkat sekolah >.<

sempat berbicara dengan ibu guru balqiz yang berencana me-reject program tersebut, dikuatirkan akan mengganggu mentalnya. bunda akhirnya berpikir dan merenungkan apa yang sebaiknya bunda lakukan. karena kalau melihat keseharian tingkah laku balqiz, menurut bunda rasanya gak masuk akal jika balqiz sampai takut dengan 'terowongan'. yaaaa... dia loncat dari kursi aja berani, naik naik teralis jendela sampai diatas juga hayoo,..

akhirnya bunda putuskan mencoba meminjam 'terowongan' tersebut ke rumah, untuk melihat apa reaksi balqiz. jika memang usaha bunda tersebut gagal, ya sudah bunda akan meminta ke sekolah untuk mereject kegiatan tersebut.

dan hasilnya???????????????????
mengejutkan sekali!!!
karena ternyata prosesnya tidak sampai 15 menit, balqiz akhirnya mau memasuki terowongan itu!!!!!!!!!!

duh nak,.... kamu selalu penuh kejutan!

Rabu, 11 November 2009

Pendidikan Inklusi

Alhamdulillah hari Jumat 6 November 2009 lalu bunda dapat kesempatan menghadiri Refleksi Penyelenggara Pendidikan Inklusi atas undangan HKI. Sebuah kesempatan yang sayang dilewatkan mengingat bunda memang sedang dalam proses mempersiapkan Balqiz untuk bisa mengikuti pendidikan inklusi. Dan apa yang bunda peroleh memang berharga sekali buat bunda.

Apa sih inklusi itu? Buat banyak orang kata ‘inklusi’ memang belum familiar, apa seh inklusi itu????

Singkat kata; Pendidikan inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan bagi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang secara akademik/ intelektual mampu bersekolah di sekolah regular/ umum.

Jadi idealnya sekolah manapun tidak boleh ‘menolak’ siswa ABK yang mendaftar masuk. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua sekolah mau dan siap menerima ABK. Banyak hal yang ‘menghalangi’

Terhitung sejak tahun 2005, dimana ada beberapa sekolah yang telah ditunjuk sebagai model ‘sekolah inklusi’.

Bunda simpulkan bahwa beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam menjalani pendidikan inklusi;

· Kesiapan ABK
· Kesiapan orangtua
· Sekolah tujuan
· Sarana prasarana
· Lingkungan
· GPK

v Rasanya 2 poin teratas yang paling penting dari segalanya. Kesiapan mental dari ABK dan orangtua. Karena objek utamanya ya ABK tersebut. Dengan pendampingan orangatuanya.

Walaupun poin-poin yang lainnya bukan berarti tidak penting, semuanya adalah saling mendukung dan berkaitan.

v Sekolah tujuan memang harus memiliki kesiapan tersendiri dalam menerima ABK untuk bisa ber-inklusi. Banyak sekolah yang mengemukakan beribu ‘alasan’ untuk membenarkan ‘menolak’ ABK. Sehingga yang terjadi adalah sekolah yang siap dan bersedia menyelenggarakan Pendidikan Inklusi letaknya jauh dari tempat tinggal. Sedangkan idealnya sekolah inklusi adalah berlokasi terdekat dari tempat tinggal.

Alasan yang umum diberikan pihak sekolah adalah;
· Sekolah tidak siap
· Tidak ada sarana prasarana
· Guru tidak berkemampuan meng-handle ABK
· Memikirkan ‘image’/ mutu sekolah
· Protes dari komite (orangtua siswa)


Sebenarnya kalau berbicara soal ‘siap’ rasanya semua sekolah harus siap, dimana perangkat UU-nya sebenarnya ada dan sudah jelas. Ditambah untuk daerah DKI ada PerGub-nya. Ditambah lagi saat ini yang baru saja ditandatangani adalah PerMen No. 70 Tahun 2009.

Hanya saja pada pelaksanaannya dikarenakan tidak adanya punishment dari perangkat UU yang ada, maka sekolah merasa ‘sah-sah’ saja untuk menolak siswa ABK.

Kalau yang disinggung soal ‘image’ ini yang bikin pusing,
‘bu, sekolah saya kan sekolah favorit! Trus kalo saya terima anak ibu, nanti sekolah saya gak jadi favorit lagi’
‘bu, nanti kalo saya terima anak ibu, trus mutu sekolah saya turun dong’
Atau…
‘bu, nanti gak ada lagi yang daftar ke sekolah sini, karena dianggap ini sekolah SLB’

Belum lagi jika adanya protes dari berbagai orangtua siswa lain, tidak mau anaknya bergaul dengan ABK. karena masih banyak masyarakat yang menganggap ketunaan sebagai ‘aib’, sebagai sesuatu yang ‘aneh’, sebagai sesuatu yang ‘punya dunia sendiri dan tidak seharusnya berada dalam lingkungan masyarakat norma;’.

v Sarana prasarana sekolah pun harus diperhatian, sebagai contoh untuk gedung sekolah yang bertingkat tentunya harus memikirkan bagaimana meng-handle ABK tunadaksa yang harus menggunakan kursi roda, kemudian tangga yang terjal pun harus diperhatikan penggunaannya bagi ABK tunanetra.

Termasuk didalamnya penyediaan buku buku braille yang diperlukan oleh ABK tunanetra, dan sistem ujian berikut ijasah bagi ABK Kesulitan Belajar.

v Lingkungan pun berperan penting, terutama dalam pembinaan mental psikologis anak. Diperlukan totalitas penerimaan lingkungan bagi ABK. Tidak hanya dari manajemen sekolah, tetapi juga dari para siswa lain, para orangtua.

v GPK disini adalah Guru Pendamping Kelas. GPK amat sangat diperlukan bagi ABK. Untuk pendampingan ABK di kelas, sebagai mediator antara ABK, guru, orangtua. Namun yang amat disayangkan keberadaan GPK ini juga membingungkan. Membingungkan buat siapa? sekolah mengatakan ‘tidak ada dana’ untuk bisa mengadakan GPK, bagi orangtua sendiri tidak semuanya berkemampuan untuk ‘meng-gaji’. Sementara menanti pengangkatan GPK oleh pihak pemerintah (dalam hal ini diknas), entah sampai kapan penantiannya berakhir. Pembiayaan dari LSM-pun terbatas. Dan idealnya GPK hanyalah GPK tidak merangkap sebagai guru kelas. Dikarenakan memang beban pekerjaanya pun rasanya tidak memungkinkan untuk dirangkap. Namun kenyataan yang ada dilapangan adalah GPK merangkap sebagai guru kelas.

Dan,...

Dengan begitu kompleksnya permasalahan inklusi ini, jujur membuat bunda ciut hati untuk bisa menjalani pendidikan inklusi bagi Balqiz. Kesannya jadi ‘Kalah sebelum Berperang’. Dalam hati bunda merenung, sanggupkah bunda mendampingi Balqiz, sanggupkah Balqiz menjalaninya?.

Setelah bunda telaah renungkan kembali, apa sih yang membuat hati bunda ‘ciut’???? yang bikin bunda ciut hati adalah, jika harus ‘babat alas’ (istilah; membuka jalan). Kenapa? Mengingat saat ini lokasi sekolah yang sudah ber-inklusi letaknya jauh dari tempat tinggal bunda. Jadi jika bunda memilih lokasi sekolah yang dekat dengan rumah, otomatis harus memulai kondisi ‘babat alas’, memulai dari sebuah angka 0 besar.

Bunda merasa; tidak mudah mengenalkan konsep inklusi untuk sebuah sekolah yang ‘belum mengenal inklusi’. Rasanya yang tergambar didepan mata adalah ‘penolakan’!

Mungkin jika nyemplung dalam sekolah yang telah ber-inklusi, bunda tidak se-ciut ini nyalinya.

Rasanya seperti pesimis, siapa tahu ternyata Balqiz amat sangat siap menjalani pendidikan inklusi? Who knows,...

Kamis, 17 September 2009

4 tahun AlifBaTa

Ya Allah Ya Rabb
Telah kau percayakan kepada kami ananda yang tercinta ini

Alifah Aishah Utami binti HM. Rustam
Balqiz Baika Utami binti HM. Rustam
Tantri Tamayanthi Utami binti HM. Rustam




Ya Allah Ya Rab
Tetap ijinkan hambaMU ini untuk mendampingi mereka,..




Ya Allah Ya Rabb
Limpahi mereka dengan barokahMU



Ya Allah Ya Rabb
Ijinkan mereka menjadi anak-anak Sholehah



Ya Allah Ya Rabb
Tiada kata selain Syukur Alhamdulillah




Allahu Akbar


Jumat, 28 Agustus 2009

balqiz@busway

hari ini kegiatan sekolah balqiz adalah OM (Orientasi Mobilitas) dengan menggunakan busway. sudah terbayang dalam benak bahwa balqiz pasti akan senang sekali. mengingat saat kita mencoba naik kereta listrik bulan lalu pun balqiz senang sekali menjalaninya. dan sebenarnya dalam hal ini bukan hanya balqiz saja yang 'belajar' tetapi bunda pun juga menjalani sebuah proses pembelajaran.

saat hendak berangkat, terlihat balqiz agak panik. menaiki mobil sekolah, balqiz tidak mau duduk menghadap depan. maunya duduk dipangku dan menghadap ke pelukan ibu gurunya, ibu rini. sebuah sikap balqiz jika dia merasa 'tidak aman' atau 'tidak nyaman' atau berada 'disebuah lingkungan baru'. dan otomatis dia selalu minta digendong, tidak mau berjalan sendiri.

bunda dan balqiz memang masih harus belajar dan berusaha keras menghadapi 'kepanikan' balqiz jika berada dalam situasi yang baru.

perjalanan menuju kampung rambutan agak tersendat lalulintas yang agak padat. balqiz sudah mulai agak tenang dan mau ngobrol. demikian juga teman-teman balqiz yang lain. ada aqif, raihan, dan michael yang masing-masing didampingi oleh ibu guru.

sesampai di halte busway kampung rambutan, tiap anak belajar membeli tiket dan bersamaan ada bis yang merapat di halte sehingga kita bisa segera masuk. tidak terlalu banyak penumpangnya, sehingga kita semua bisa duduk. oya, balqiz tidak tahu kalau bunda juga ikut serta dalam rombongan. jadi memang sudah menjadi perjanjian bunda dengan ibu gurunya bahwa bunda boleh ikut tetapi balqiz tidak boleh tahu. oke!!! no problem kok.

ada sebuah proses pembelajaran juga buat bunda. bukan semata hanya karena ingin mendokumentasikankan kegiatan balqiz saja. tetapi bunda juga 'menata hati' bahwa satu hari nanti balqiz akan benar-benar bepergian sendirian tanpa bunda. dan satu lagi yang penting adalah 'uji mental'.

kuatkah mental bunda!!!!! bunda memposisikan bahwa bunda berada di luar rombongan, sehingga bunda bisa leluasa juga melihat bagaimana reaksi 'masyarakat' akan keberadaan balqiz.

hasilnya???
satu dua pasang mata memandang takjub dan tertarik dengan keberadaan balqiz beserta teman-temannya. takjub disini dalam artian apresiasi yang positif. tetapiiiiiiiiiiiiii...... terdapat juga satu dua tiga empat lima,...... mata memandang dengan 'belas kasihan' bahkan terucap langsung dari mulut seorang ibu paro baya yang kebetulan duduk disebelah bunda sehingga bunda bisa mendengar dengan jelas; 'kasihan!' desis beliau.

alhamdulillah,... bunda bisa tersenyum dan mengikhlaskan hati mendengarnya. tidak mudah sahabat. berattttttttttt dan sedih rasanya. tetapi inilah uji mental.

sepanjang perjalanan menuju arah kampung melayu, balqiz dan teman-teman terlihat cukup menikmati perjalanan. michael sempat mencoba untuk berdiri di dalam bis sehingga dia bisa merasakan badannya bergoyang goyang mengikuti entakan bis. senyumnya langsung tersungging dibibirnya. sementara raihan dan aqif asyik menikmati snacknya,..... hehehehehe bikin ngiler yang pada puasa dong ya!!!

sesampai di terminal kampung melayu, kita semua turun dan sambil menunggu bis, balqiz dan teman-teman kemudian membeli air minum dalam botol yang dijual di mesin. tidak seperti yang pernah bunda jumpai saat bepergian keluar negeri dimana mesin penjual minuman menggunakan koin. mesin yang ada ini menggunakan voucher. jadi membeli dulu voucher dipetugas yang menunggu mesin barulah kita menggunakan voucher tersebut buat memilih minuman yang kita inginkan. lucu juga hehehehe,..

dalam perjalanan kembali dari kampung melayu menuju kampung rambutan, terlihat kelelahan di wajah anak-anak. agif dengan mudahnya langsung tertidur. sementara itu balqiz masih terus dibujuk untuk bisa duduk menghadap ke depan. akhirnya setelah dirayu rayu, mau juga duduk menyamping dan menghadapkan wajahnya ke depan. rupanya kantuk juga sudah menyapa balqiz,.. sempat terucap dari balqiz minta ijin ke ibu rini buat tidur 5 menit. lucu juga mendengarnya. pada akhirnya memang balqiz tertidur juga hingga sampai di terminal kampung rambutan. sementara raihan dan michael masih menikmati perjalanannya bahkan sempat bercanda dan merasakan bagaimana rasanya berdiri di dalam bis.

kembali menuju sekolah, balqiz sudah segar kembali dan terdengar lagi ocehannya yang menceritakan bahwa dia baru saja naik busway.

pelajaran hari ini;
balqiz
- masih harus belajar mengalahkan rasa panik berada ditempat baru & situasi yang ramai
- berkaitan dg diatas belajar untuk menumbuhkan rasa percaya diri
- belajar percaya kepada orang lain selain bunda dan pengasuhnya

bunda
- menguatkan mental bahwa satu masa nanti balqiz akan terjun bermasyarakat tanpa pengawasan bunda

sekolah
- menjadwalkan secara kontinue kegiatan seperti ini

masyarakat
- ABK tidak untuk dikasihani, tetapi diberi kesempatan yang sama dalam bermasyarakat

operator busway/ transjakarta
- melatih kembali pengemudi agar bisa benar-benar merapatkan posisi badan bis pada halte yang disinggahi tidak hanya sekedar berhenti.


Jumat, 21 Agustus 2009

pra-braille


keinginan para orangtua ABK tunanetra pastinya anaknya bisa segera menguasai braille sehingga bisa memudahkan sang anak untuk membaca menulis. sebenarnya bukan sesuatu yang muluk, hanyalah sebuah keinginan yang wajar dikarenakan memang braille lah sarana baca tulis bagi sang anak.



namun menuju fasih braille ada tahapan-tahapan yang harus dilalui anak, dan ini terkadang membuat orangtua merasa kok lama banget seh baru anakku diajarin braille. kok sudah sekian tahun anakku sekolah belum juga diajarin braille. atau yang ekstrim lagi,.. anak baru masuk sekolah, sang orangtua langsung meminta anak diajarin braille.

kembali mengingatkan bahwa 'mata' bagi penyandang tunanetra adalah; jemarinya, telinganya, hidungnya, keseluruhan indera selain mata adalah 'mata' bagi tunanetra. untuk mempelajari braille utama sekali adalah jemarinya.

disinilah sensitifitas jemari yang harus diasah. proses 'men-sensitifkan' jemari inilah yang membuat para orangtua seringkali tidak sabar, bahkan seringkali secara tidak langsung, secara tidak sadar 'membutakan' juga rasa sensitifnya.

kenapa bunda katakan orangtua malah secara tidak langsung secara tidak sadar 'membutakan' rasa sensitif jemari anaknya yang seharusnya menjadi 'mata'???? ini kembali lagi kepada proses 'menata hati' orangtuanya lagi.

orangtua sering kali tidak tega atau bahkan melarang sang anak 'meng-eksplore' jemarinya dengan melarang sang anak menyentuh berbagai benda, terlalu 'membantu' kepentingan sang anak sehingga pada akhirnya sang anak jarang sekali menggunakan 'jemarinya' untuk berkegiatan dan mengeksplore berbagai benda. nah yang demikian itu apakah tidaklah sebuah proses 'membutakan' juga rasa sensitifitas dan 'fungsi' dari jemarinya. tanpa disadari orangtua lebih senang mengambil alih fungsi jemari/ tangan sang anak.

contoh;
orangtua lebih senang langsung mengupaskan buah pisang dan kemudian menyuapkan kepada anak. sementara itu dalam mengupas buah pisang hingga memakannya ada sebuah tahapan yang 'penting'. dimana dalam proses tersebut seharusnya anak mengetahui bentuk buah pisang, anak mengetahui tekstur kulit buah pisang, anak mengetahui bagaimana caranya mengupas buah pisang, anak mengetahui tekstur dari isi buah pisang, anak mengetahui cara memakan buah pisang tersebut.

sepele sepertinya tetapi banyak proses pembelajaran di dalamnya.

jadi tahapan pra-braille bagi anak-anak penyandang tunanetra adalah mengasah rasa sensitifitas dan fungsi dari jemarinya dahulu. anak bisa mengenali benda apa yang sedang diraba, dipegang, bisa merasakan tekstur dari benda benda yang sedang dipegang.

barulah setelah mengasah 'mata', anak bisa memulai tahapan pengenalan huruf huruf braille. dan yang tidak kalah penting lagi adalah orangtuanya dahulu yang harus belajar mengenal dan menguasai braille.