Rabu, 02 September 2020

Mengapa mengajarkan Braille penting bagi anak tunanetra total?

Kode Braille diciptakan oleh Louis Braille di Paris tahun 1824 dan diakui sebagai media tulis bagi orang dengan hambatan penglihatan yang tidak memungkinkan membaca huruf awas (tulisan biasa) lagi. Seperti halnya penemuan di bidang lain, selalu ada pro kontra dan tidak mudah bagi semua menerima begitu saja. Termasuk Perkins School for the Blind sendiri, yang berdiri pada tahun 1829.

.

📝

Saat berdiri pertama kali, murid-murid di Perkins menggunakan huruf timbul (huruf biasa yang dibuat timbul/ teraba), Perkins seperti menolak Braille. Namun meskipun menolak, Perkins tetap mencoba dan membandingkan mana yg lebih efektif , huruf timbul vs Braille. Pada akhirnya usaha tersebut membuktikan bahwa penggunaan Braille lebih efektif bagi murid dibandingkan dengan huruf timbul.

.

 📝

Dan akhirnya pada pertengahan tahun 1830-an, murid-murid Perkins menggunakan Barille. Berkembang hingga Perkins  menciptakan mesin tik Braille yang eksis sampai saat ini. Terus berkembang hingga saat ini Perkins menciptakan berbagai model mesin tik Braille dengan teknologi dan penggunaan apps.

.

 📝

TETAPI apakah setelah adanya teknologi tersebut mereka melupakan Braille yang ditulis manual?  

.

 📝

TIDAK!
Karena ini dasar bagi anak tunanetra untuk penggunaan tehnologi yang lebih canggih. Mungkin ada yang bilang, kan sudah ada screen reader ada “komputer bicara” katanya, tapi ingat, hampir semua orang saat ini bekerja dengan kompoter, laptop, smartphone tapi apakah kita melupakan TULISAN TANGAN? Tidak pernah!  Mengapa? Kita semua punya jawaban sendiri-sendiri.

.

 📝

Saya tuliskan ini sebagai renungan bahwa anak-anak tunanetra perlu belajar Braile, apapun kondisinya, hingga saat ini, kita tidak bisa lepas dari tulisan tangan. Ini adalah perbandingan yang sepadan untuk melihat urgensi belajar Braille

.

  📝

Jadi kalau anak kita di inklusi, bagaimana? Itu hak mereka untuk mendapatkan akses Braille. Kan tidak semua buku juga bisa ditimbulkan. Kita sebagai support system yang harus memberikan akomodasi pada anak, yang harus menyesuaikan pada kebutuhan anak, bukan anak yang harus menyesuaikan kita

.

 📝

Oleh sebab beberapa saat lalu, group orang tua  menawarkan agar ada anggota yg belajar Braille supaya nantinya dapat mengajarkan pada orang tua lainnya.  Tujuannya semua orang tua di group ini yang memiliki anak dengan penglihatan yang tidak mencukupi harus bisa Braille. Agar bisa menjadi suara dari anak-anak.

.

 

Keterangan foto : alat tulis riglet di atas kertas bertulisan braille

.

 💗

Terima kasih

Penulis : Weningsih (educator consultant Perkins School for The Blind)

(artikel dicopy dari baby community)

 

 

Rabu, 05 Februari 2020

TEMAN SEBAGAI BAGIAN SUPPORT SYSTEM




Bismillah,
Saat memutuskan Balqiz untuk menjalani sekolah di sekolah umum dengan program inklusi, ibuk hanya berharap Balqiz bisa berteman dengan baik. Bisa bersosialisasi dengan lingkungan umum yang majemuk. Mengingat 10tahun sebelumnya bersekolah di SLB dimana lingkungannya homogen dengan sesama penyandang tunanetra.
.

Di masa smp ini ibuk berharap bisa mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan majemuk yang memiliki banyak pernak pernik kehidupan sebagai gambaran kecil kehidupan majemuk pada umumnya. Belajar menjadi kaum minoritas yang membutuhkan perjuangan agar bisa survive dalam bermasyarakat.
.

Membutuhkan support system yang kondusif pastinya dalam menjalani hari hari sebagai seorang pelajar berkebutuhan khusus. Diantara abk lain yang bersekolah di sana, Balqiz menjadi penyandang tunanetra satu satunya.
.

Selain pastinya selalu menjalin komunikasi yang baik bersama pihak sekolah dan guru dalam mengakomodir kelancaran proses belajar mengajar, support system yang diperlukan adalah teman-teman yang bisa memahami bagaimana berinteraksi dengan Balqiz yang tunanetra.
.

Tidak mudah diawal, karena membutuhkan proses berinteraksi yang intens untuk bisa saling berteman dan memahami. Terlebih secara fisik terlihat berbeda dengan anak-anak lainnya. Bersyukurnya tertolong dengan karakter Balqiz yang ekstrovert mudah berteman dan punya percaya diri untuk menyapa terlebih dahulu kepada seseorang, sehingga sangat membantu proses pertemanan.
.

Dan si ibuk sangat yakin, diantara sekian puluh anak dalam kelas, pasti akan ada yang aware dan punya perhatian. Seiring perjalanan waktu dimana Balqiz juga melibatkan diri dengan banyak kegiatan sekolah serta ekstra kurikulum, semakin bertambah pula teman dan anak anak yang aware atas keberadaannya. Walau tidak berteman sekelas, walau bukan teman dekat. Dengan tulus sukarela mengulurkan tangan membantu jika ada kesulitan.
.

Support system demikian tidak terjadi dengan sendirinya, perlu dibangun dengan kesadaran dari banyak pihak. Baik dari ibuk sebagai keluarga, Balqiz sendiri sebagai pelaku utama, dan pastinya pihak sekolah yang telah menciptakan lingkungan kondusif bagi keberadaan anak anak berkebutuhan khusus.
.

Ibuk melihat Balqiz semakin hari semakin merasa nyaman berada di sekolahnya. Pulang sekolah tetap dalam kondisi ceria walau ibuk yakin dan tahu bahwa pelajaran diterimanya tidak mudah dan bobotnya semakin berat di kelas 8 ini.
.


Keterangan Foto : Frame besar Balqiz dikelas duduk sebangku bersama teman. Frame kecil Balqiz sedang berdiri bersama 3 orang temannya.
.


#Belajar
#SMP
#Inklusi
#InklusiPastiBisa
#Sekolah
#PeduliAbk
#RabuPeduliAbk
#AnakTunanetra
#ABKTunanetra
#AlifBa
#Balqiz