Jumat, 22 Mei 2026

Belajar berhenti berkata ‘maaf’

Tulisan ini disalin dari fitur kenangan FB tertanggal 22 Mei 2012

Jika melihat judul diatas tentunya akan mengernyitkan dahi. Bukankah kata ‘maaf’ adalah kata yang masuk di dalam ‘magic word’ yang juga sebaiknya diajarkan kepada anak, termasuk anak berkebutuhan khusus sekalipun.

 

Note ini terinspirasi sebuah status dari seorang ‘sahabat’, hehehehehehe lagi-lagi inspirasinya dari ‘status’ yak!! Yaaaa, pembelaannya adalah bahwa inspirasi menulis bisa darimana saja termasuk dari sebuah ‘status’.

 

Membawa ABK berada diluar lingkungan rumah, berada di area public merupakan sebuah tantangan dan uji mental tersendiri. Bukan hanya bagi orangtuanya yang membawa serta ABK-nya namun juga bagi sang ABK itu sendiri. Dalam berbagai situasi dan kondisi di luar lingkungan yang biasa melingkupi sang ABK banyak hal yang bisa terjadi, termasuk di dalamnya tantrum atau sebuah upaya ‘cari cari perhatian’.

 

Sebenarnya ulah atau tingkah laku seperti itu bukan hanya milik ABK. Pada umumnya anak-anak mempunyai sifat dasar seperti itu. Toh biasa juga kita melihat seorang anak yang ngambeg misalnya karena permintaannya tidak terpenuhi saat di mall, biasa juga melihat seorang anak yang menangis merengek, biasa juga melihat seorang anak yang berlari atau berteriak mencari-cari perhatian orangtuanya atau orang sekitarnya.

 

Namun,… ternyata hal-hal biasa tersebut akan menjadi ‘tidak biasa’ apabila terjadi pada seorang ABK. Oya memperjelas dahulu bahwa ABK disini adalah Anak Berkebutuhan Khusus, bukan Anak Buah Kapal yaaaaaa.

 

Seorang sahabat dalam statusnya menyebutkan bahwa dia akhirnya belajar untuk berhenti berkata ‘maaf’ saat ABK-nya berteriak mengungkapkan perasaannya. Perasaan senang atau sedih pada beberapa ABK terkadang terlihat ‘berlebihan’ dimana mereka berteriak, tertawa dalam suara yang keras dan tidak jarang disertai ‘melompat lompat kegirangan. Pada akhirnya sang orangtua ‘terpaksa’ melontarkan kata ‘maaf’ karena melihat reaksi dari lingkungan sekitar yang merasa terganggu mungkin atau merasa aneh melihat tingkah sang ABK. Sahabat berkata bahwa anaknya memang masih harus belajar bagaimana mengungkapkan perasaannya, namun sang anak tidak akan bisa memahami mengapa sang orangtua harus berkata ‘maaf’ karena ungkapan dirinya.

 

Mengingatkan diriku akan pengalaman berada di ruang public bersama Balqiz tentunya. Saat ini Balqiz sudah semakin merasa memerlukan bantuan tongkat untuk membantunya dan semakin bisa menguasai teknik dalam penggunaan tongkat tersebut. Jika berada di ruangan yang lebar dan luas biasanya tidak ada masalah. Namun berbeda jika kita berada dalam ruang gerak yang terbatas, misalkan di lorong sebuah mall, atau berada di halte pemberhentian bus. Tidak jarang tongkat Balqiz akan menyenggol kaki seseorang atau menabrak sesuatu yang menghalangi gerakan tongkat yang diayunkan Balqiz.

 

Beberapa kali aku memang meminta maaf atas kejadian tersebut, maaf yang didasari merasa bersalah bahwa keberadaan Balqiz yang menggunakan tongkat ternyata membuat orang tidak nyaman karena tertabrak atau tersenggol. Dan saat ini Balqiz sudah semakin kritis dalam menyikapi berbagai hal, jika kemarin kemarin dia hanya diam saja mendengar dan menyimak namun sekarang dia sudah bisa bertanya sekaligus protes. Kenapa bunda harus minta maaf?

 

Saat dijelaskan bahwa bunda minta maaf karena tongkat Balqiz menabrak seseorang atau menghalangi langkah seseorang, Balqiz melayangkan protes, “kan kata ibu tongkat buat tanda jalan, kalo nabrak aku harus berhenti” atau, "kan kata ibu 'balqiz kalo jalan dibantu melihatnya pakai tongkat'"

 

Akhirnya tersadar, bahwa ya juga yaaaa! Kan fungsi tongkat adalah membantunya untuk memandu berjalan, membantunya menjadi ‘mata’, membantunya mengenali area di depan langkahnya, kalau selalu meminta ‘maaf’ akhirnya buat apa berjalan? Buat apa orientasi mobilitas, lantas kalau misalkan Balqiz kelak mampu ‘mandiri’ tanpa pendamping jangan jangan saat membentur tembok dia akan berkata ‘maaf’ kepada tembok!!!!

 

Jadilah aku belajar berhenti berkata ‘maaf’ dalam

kondisi kondisi tertentu

. Cukuplah aku tersenyum dan mengajak Balqiz meneruskan langkah. Tentunya orang akan segera mengetahui bahwa tongkat yang menabrak dirinya adalah sebuah tongkat seorang ‘tunanetra’. Sudah saatnya masyarakat menerima keberadaan para penyandang disabilitas di sekitar mereka. Bahwa penyandang disabilitas juga mempunya hak berada di dalam ruang publik yang sama dengan masyarakat umum.

memulai berpartisipasi membentuk masyarakat yang inklusi dengan langkah kecil sesuai kemampuanku.

 

Buat sahabatku, terimakasih atas inspirasinya, tetap semangat dan tetap menguatkan tekad kita menaklukkan dunia bagi masa depan ABK kita!!!!





Senin, 04 Mei 2026

Kenapa sih anak tunanetra suka tekan/ kucek mata?

 

Bismillah,

Sebelum menjawab, kita coba ingat-ingat apa yang akan kita lakukan disaat bosan/ tidak ada yang dikerjakan/ atau disaat berada ditempat baru/ bertemu dengan orang baru? Juga misal kita sedang merasa cemas, ada sesuatu yang menakutkan, gelisah.

 

Buat kita orang awas, biasanya yang kita lakukan lihat kiri kanan, atau bengong/ ngelamun, ngobrol mungkin dengan orang di sekitar, atau memilih olahraga jempol yakni main gadget. Atau mungkin pernah menemui orang menggoyang-goyangkan kaki saat menunggu, memainkan rambut dengan menggulung-gulungnya. Semuanya bertujuan untuk mencari kenyamanan pada diri kita, mengalihkan diri dari berbagai rasa tidak nyaman.

 

Lantas,

Terpikirkah bagaimana jika itu terjadi pada anak kita yang memiliki gangguan penglihatan? Gak ada yang dikerjain, ada orang disekitar tapi pada sibuk semua. Banyak suara yang mungkin asing dan menakutkan.

 

Alhasil karena gak ada yang bisa dikerjain, anak akan eksplore tubuhnya. Mana kiranya yang nyaman, menarik atau mudah dikerjakan. Jadi ada anak yang akan senang menggoyang-goyangkan tubuhnya, ada yang suka bertepuk-tepuk tangan, atau loncat-loncat. Nah salah satu yang menarik, nyaman dan mudah dikerjakan adalah menekan/ kucek mata.

 

Karena dirasanya nyaman, mudah, menarik yang awalnya hanya sekedar eksplore akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Selanjutnya kebiasaan ini nanti akan ibuk sebut dengan istilah 'blindism'.

 

Sayangnya kebiasaan tersebut dampaknya merugikan bagi estetika wajah anak. Tekanan berulang dan sering sementara area mata terbentuk dari jenis tulang lunak. Ya sudah, akhirnya wajah anak-anak secara perlahan akan berubah tidak simetris, lebih cekung pada salah area mata dan karena sudah menjadi kebiasaan jadilah potensi tantrum saat dilarang.

 

Disini tantangan bagi orangtua.

Jangan pernah lelah untuk mengalihkan jemari anak, jangan pernah lengah karena segala cara akan dillakukan oleh anak bagaimana bisa menekan/ kucek mata ini. Dan sibukkan anak dengan berbagai kegiatan.

 

Bagaimana dengan Balqiz dimasa kecilnya?

Sama. Suka tekan mata juga.

Jadi ibuk harus kompak dengan seluruh warga rumah, sehingga saat melihat Balqiz memulai aksinya, semua bisa berkontribusi untuk mengalihkan jemarinya.



keterangan foto : balqiz kecil sedang menekan mata


 Sulit?

Capek?

Bosan?

Jelaaaasss

Tapi suka tidak suka, mau tidak mau, harus DIALIHKAN alias DILARANG.

Berhasil?

Alhamdulillah

Sehingga dampak kondisi cekung pada area mata bisa diminimalis.



keterangan foto : balqiz di usia dewasa 

 

Buk, tantrum gak?

Whuaaaa ya jelas

Berhubung Balqiz paham bahwa yang berlaku adalah aturan ibuk, bukan aturan Balqiz, jadi gak berani tantrum lama-lama.

 

Jadi soal tantrum pada anak saat dilarang menekan/ kucek mata, ibuk kembalikan kepada teman-teman punya cara sendiri untuk mengatasinya.

  

Ada beberapa tulisan ibuk terdahulu yang pernah ibuk posting di FB perihal ini. InshaaAllah akan ditulis ulang di blog ini agar bisa dibaca juga secara umum tanpa perlu masuk ke akun FB.