Bismillah,
Sebelum
menjawab, kita coba ingat-ingat apa yang akan kita lakukan disaat bosan/ tidak
ada yang dikerjakan/ atau disaat berada ditempat baru/ bertemu dengan orang
baru? Juga misal kita sedang merasa cemas, ada sesuatu yang menakutkan,
gelisah.
Buat
kita orang awas, biasanya yang kita lakukan lihat kiri kanan, atau bengong/
ngelamun, ngobrol mungkin dengan orang di sekitar, atau memilih olahraga jempol
yakni main gadget. Atau mungkin pernah menemui orang menggoyang-goyangkan kaki
saat menunggu, memainkan rambut dengan menggulung-gulungnya. Semuanya bertujuan
untuk mencari kenyamanan pada diri kita, mengalihkan diri dari berbagai rasa
tidak nyaman.
Lantas,
Terpikirkah
bagaimana jika itu terjadi pada anak kita yang memiliki gangguan penglihatan? Gak
ada yang dikerjain, ada orang disekitar tapi pada sibuk semua. Banyak suara
yang mungkin asing dan menakutkan.
Alhasil
karena gak ada yang bisa dikerjain, anak akan eksplore tubuhnya. Mana kiranya
yang nyaman, menarik atau mudah dikerjakan. Jadi ada anak yang akan senang
menggoyang-goyangkan tubuhnya, ada yang suka bertepuk-tepuk tangan, atau
loncat-loncat. Nah salah satu yang menarik, nyaman dan mudah dikerjakan adalah
menekan/ kucek mata.
Karena
dirasanya nyaman, mudah, menarik yang awalnya hanya sekedar eksplore akhirnya
menjadi sebuah kebiasaan. Selanjutnya kebiasaan ini nanti akan ibuk sebut
dengan istilah 'blindism'.
Sayangnya
kebiasaan tersebut dampaknya merugikan bagi estetika wajah anak. Tekanan berulang
dan sering sementara area mata terbentuk dari jenis tulang lunak. Ya sudah,
akhirnya wajah anak-anak secara perlahan akan berubah tidak simetris, lebih
cekung pada salah area mata dan karena sudah menjadi kebiasaan jadilah potensi
tantrum saat dilarang.
Disini
tantangan bagi orangtua.
Jangan
pernah lelah untuk mengalihkan jemari anak, jangan pernah lengah karena segala
cara akan dillakukan oleh anak bagaimana bisa menekan/ kucek mata ini. Dan sibukkan
anak dengan berbagai kegiatan.
Bagaimana
dengan Balqiz dimasa kecilnya?
Sama.
Suka tekan mata juga.
Jadi
ibuk harus kompak dengan seluruh warga rumah, sehingga saat melihat Balqiz
memulai aksinya, semua bisa berkontribusi untuk mengalihkan jemarinya.
Capek?
Bosan?
Jelaaaasss
Tapi
suka tidak suka, mau tidak mau, harus DIALIHKAN alias DILARANG.
Berhasil?
Alhamdulillah
Sehingga
dampak kondisi cekung pada area mata bisa diminimalis.
Buk,
tantrum gak?
Whuaaaa
ya jelas
Berhubung
Balqiz paham bahwa yang berlaku adalah aturan ibuk, bukan aturan Balqiz, jadi
gak berani tantrum lama-lama.
Jadi
soal tantrum pada anak saat dilarang menekan/ kucek mata, ibuk kembalikan
kepada teman-teman punya cara sendiri untuk mengatasinya.
Ada
beberapa tulisan ibuk terdahulu yang pernah ibuk posting di FB perihal ini.
InshaaAllah akan ditulis ulang di blog ini agar bisa dibaca juga secara umum
tanpa perlu masuk ke akun FB.

