Senin, 03 Februari 2014

BANJIR



Sebuah pembelajaran dalam kehidupan. Selama ini hanyalah sebuah ‘cerita’ saja kepada Balqiz mengenai banjir. Baik dalam menjelaskan sebuah berita dari televisi, maupun materi mata pelajaran di sekolah. Sementara kembali lagi bahwa proses pembelajaran bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan sebisa mungkin adalah sesuatu yang ‘real’.

Di lingkungan rumah pun sebenarnya ada beberapa kali peristiwa banjir, namun karena banjirnya hanya di jalanan depan rumah, dan belum ada moment kepepet yang bisa menceburkan Balqiz ke dalam banjir, alhasil selama ini dia hanya tahu banjir namun belum benar-benar mengetahui apa dan bagaimana banjir sebenarnya.

Bulan Januari 2014 curah hujan sangat tinggi, ditambah dengan intensitas debit air di waduk Katulampa yang cukup tinggi membuat kondisi harus siaga. Dan akhirnya kebagian juga moment kena banjir. Air dari jalanan masuk ke garasi, teras rumah, sementara air rembesan dari bawah memenuhi taman yang ada di tengah tengah rumah, dan kamar mandi. Akhirnya kesampean juga punya kolam renang pribadi di rumah :)

Banjir yang pertama (senin, 13/1/2014) membuat si kembar dan ayah gak bisa berangkat beraktifitas ke sekolah dan kantor. Alhasil dirumah saja sembari deg-degan melihat debit air yang semakin naik. Alhamdulillah jelang sore sudah mulai surut dan tinggal bebersih lumpurnya yang ajib banget. Pfffuuuiiihhh.

Serangan banjir ke-dua (minggu, 19/1/2014) berlangsung di akhir pekan. Jadi ya memang lagi dirumah. Kembali deg-degan sembari komat kamit aji aji mantera ‘surut’ ‘surut’ ‘surut’ 1000x #lebay

Banjir yang ke-3 (selasa, 28/1/2014) yang bikin kuatiran banget, karena saat berangkat antar sekolah Balqiz pukul 05.20 wib, jalanan di depan rumah sudah mulai tergenang, sementara berita tetangga bahwa jalanan arah keluar komplek di depan mesjid sudah tidak bisa dilalui mobil karena air sudah tinggi. Jadilah kita berangkat lewat jalanan ‘kampung’.

Saat jelang pulang sekolah, dapat kabar kalau air sudah semakin naik, mobil sudah gak bisa masuk ke dalam komplek. Alhasil mobil kembali parkir di moll depan komplek dan kita masuk ke dalam lewat gang kecil nyusurin rumah penduduk. Salah satu ujung gang kecil tersebut persis nimbus di samping rumah. Dan posisinya memang lebih tinggi jadi gak kena banjir.

Taraaaaaaaaaaaaa… tibalah di ujung gang, dan air sudah setinggi betis orang dewasa. Menuju rumah mau gak mau harus masuk celupin kaki ke area banjir.

Balqiz segera bunda minta buat lepas kaos kaki dan sepatunya. Awalnya dia ragu, karena emang Balqiz gak suka bertelanjang kaki saat berada diluar ruangan. Tapi kemudian bunda bilang kalo nanti diambilin sandalnya, dan balqiz boleh main banjir selama 5 menit. Whuaaaaaaaa langsung wajahnya yang semula ragu-ragu jadi sumringah dan tersenyum lebar. Tanpa ragu masuklah dia ke area banjir dan berlari sana sini plus loncat mengarungi banjir sembari berteriak teriak girang :)






Bunda sendiri langsung masuk ke rumah dan setelah buka kunci meletakkan segala macam bawaan yang tergantung di pundak, dan menawarkan sandal kepada Balqiz. Alhamdulillah, banjir hanya melambai lambai di garasi dan teras, walopuunnn tinggal 1cm lagi air akan masuk ke dalam ruang tamu. Sementara di dalam rumah, air sudah memenuhi lantai kamar mandi dan taman dalam rumah. Wesss ntar aja deh pusing bersih-bersihnya, yang penting adalah melihat tawa lebar Balqiz yang sedang ‘belajar tentang banjir’.