Senin, Maret 16, 2015

pembelajaran bab lift dan eskalator untuk abk tunet



Buat sebagian anak, lift, escalator/ tangga berjalan merupakan sesuatu yang menakutkan. Melihatnya berjalan dan tidak jarang bunyinya yang berderit seringkali membuat ngilu pendengaran.

Terutama lagi pada anak-anak dengan gangguan penglihatan, baik itu low vision maupun tunanetra. Seolah-olah terbang terangkat tanpa mengetahui apa yang sedang dinaiki.

Kemudian pada sebagian besar anak dengan gangguan penglihatan memiliki indera pendengaran sehingga bunyi yang samar pun bisa mereka dengar termasuk disana bunyi derit escalator/ lift yang mungkin buat kita tidak terdengar. Bunyi derit tersebut seringkali membuat ngilu pendengaran mereka.

Kondisi kondisi tersebut seringkali berbuntut tantrumnya anak saat harus menaiki lift/ escalator. Ditambah minimnya informasi yang sampai kepada mereka dari orangtuanya mengenai lingkungan yang ada di sekitar.

Seorang sahabat bertanya, kok bisa sih acis anteng banget naik escalator dan malah kalo ke mall yang dicari lift.

Bukan hal yang mudah namun bukan hal yang sulit juga dilakukan. Dikatakan Bukan hal yang mudah disini, karena prolognya proses pembelajaran, proses konsepnya cukup panjang dan memakan waktu yang cukup lama, kenapa cukup lama disini karena menyangkut pembiasaan dari orangtuanya serta konsistensi atas sebuah konsep. Namun ternyata saat dilakukan juga tidak sesulit yang dibayangkan.

Mulai kapan pembelajarannya bund? Sejak bayi,… lhaaaa kok sejak bayi? Emang bayi udah bisa melangkah sendiri naik ke escalator atau lift? Hehehehehe…. Nyecokin konsepnya yang sudah aku lakukan sejak bayi.

Bayi/ anak, ibarat spon yang menyerap segala informasi yang diterima melalui berbagai panca inderanya. Dan disaat yang tepat akan dikeluarkan kepandaiannya dalam mengolah menyerap berbagai informasi tersebut.

Belajar bersama balqiz yang memiliki gangguan penglihatan, tertanam dalam benakku bahwa yakin bahwa indera yang lain akan lebih ditajamkan untuk menggantikan fungsi indera penglihatannya. Namun seiring berjalan waktu juga, akhirnya aku belajar, bahwa aku punya tugas untuk mengasah/ menstimulasi indera lainnya agar semakin tajam apa yang sudah tajam tadi. Buat aku, tajam alami saja belum cukup, aku harus mengasahnya, harus menstimulasinya lagi.

Kembali ke topik semula urusan lift dan escalator. Fasilitas lift dan escalator saat ini pasti dengan mudah bisa kita jumpai di berbagai mall sekitar kita.

Sebelum bepergian bunda sudah nyekokin macam-macam informasi kepada balqiz (ini sudah bunda lakukan sejak balqiz bayi). Mau kemana kita, dengan siapa saja pergi, pakai apa kita pergi, mau ngapain kita disana, kenapa harus ke sana, apa saja yang mungkin ada disana, berapa lama perjalanan menuju ke sana, kondisi dijalanan nanti bagaimana, berapa lama kita berada di mall, dan sebagainya.

Tidak cukup hanya itu, saat berbagai pergerakan bersama balqiz pun sebisa mungkin disampaikan.

Contoh dibawah ini, adegan/ obrolan setelah sampai di depan mall, balqiz masih bayi dan berada dalam gendongan.

‘dek… kita sudah sampai di mall ya. Adek sama ibu turun di lobby, ayah dan kakak lanjut parkir mobil dulu nanti kita ketemu lagi di dalam mall ya dek’
‘dek, kita masuk ke mall ya… kita lewati pintu otomatis dek, jadi pintunya ada monitor sensornya, kalo ada yang bergerak di depan pintu, pintunya akan otomatis terbuka’*

Note : * di sesi lain, ada pembelajaran tersendiri mengenai pintu otomatis ini

‘dek, mall nya bertingkat, ada 5 lantai ya. Seperti rumah kita, tapi kalau rumah kita hanya dua lantai saja jadi cukup pakai tangga. Nah kalo pakai tangga kan capek dek,… kita naik escalator ya. Escalator itu tangga berjalan. Jadi kita naik ke anak tangganya, dan saat melangkah naik tangga dengan menggunakan kaki kanan ya….. hayoooo yang mana kaki kanan adek,… nah ini dia kaki kanan adek (sambil dipegang kaki kanannya untuk menunjukkan mana kaki kanannya). Oyaaa dek, ini tangganya akan berjalan sendiri dibantu dengan mesin, nyampe deh kita ke lantai atasnya. Nah, ini ibu melangkah naik ya dek,… trus ini pegangan tangganya,… hehehehe bergerak ya dek (sembari tangan balqiz dipegangkan ke sisi pegangan tangga dan bisa merasakan pergerakan escalator). Dek,… ibu sekarang hati hati nih bentar lagi kita sampai di lantai atas, naahh ini kaki ibu sudah melangkah lagi di lantai atas, kita melangkah juga dengan kaki kanan, dan tandanya kalau kita sudah hampir sampai, pegangan tangganya mendatar ya dek, sudah tidak bergerak ke atas lagi. Kita sudah naik escalator. Whuaaa hebat ya adek balqiz sudah bisa naik eskalator’

--

‘dek,… kita sekarang naik lift ya. Ini ada tombol untuk memilih mau naik ke atas atau ke bawah. Yuk adek yang tekan tombolnya ya (mengarahkan jemari acis untuk menekan tombol, kita pilih yang atas, karena kita mau naik. Whuaa dek, tombolnya ada huruf braillenya lho… bacaannya ‘up’ artinya naik. Nah kita tunggu dulu ya sebentar’
‘dek, lift nya sudah datang, pintunya sudah terbuka, yuk kita masuk ke dalam lift. Nanti kita tekan tombol  angka 3 ya, kita mau naik ke lantai 3, adek bantu tekan tombol ya. Hmmmm berasa kan ya dek kita naik… senang ya dek. Ahaaa bentar lagi kita sampai, nah pintunya sudah terbuka,…. Whuaaa adek acis hebat sudah bisa naik lift.

Obrolan, dan informasi tersebut rutin bunda lakukan berulang-ulang. Membuat dalam suasana menyenangkan. Dan aku adalah tipikal orang yang masa bodoh dan cuek dengan apa yang ada dalam pikiran orang/ pandangan orang terhadap apa yang sedang kami. toh gak kenal juga, ngapain dijadikan beban. Sudah jadi tontonan gratis buat mereka apa yang bunda lakukan kepada acis. Cuek saja!!

Sehingga disaat balqiz sudah ‘mengerti’ atas lingkungannya, sudah mulai besar usianya, berbagai konsep yang sambil lalu itu sudah melekat pada dirinya, dan tidak sulit lagi saat dia harus melakukannya sendiri.

Di saat balqiz sudah mulai lancar berjalan, sudah sulit digendong dan sudah tidak tertarik lagi untuk duduk di strollernya, konsep saat naik lift/ escalator sudah matang, tinggal mengajarinnya untuk bagaimana melangkahkan kakinya saat naik dan turun escalator, juga saat bagaimana di lift.

Hehehehe… peer lagi kaaann.. dan hal ini juga demikian, tidak mudah dilakukan tapi tidak sesulit yang dibayangkan juga.

Poin yang penting dalam pembelajaran ini, adalah kaki mana untuk melangkah, posisi tangan pada pegangan tangan escalator, tanda yang harus diperhatikan saat harus melangkah.

Jelang naik escalator, bunda selalu bilang, ‘dek escalator, sebelah kanan’ artinya kita mau melangkah naik escalator dan pegangan tangan ada di sebelah kanannya. Jadi saat itu balqiz harus segera melangkahkah kaki kanannya dan berbarengan meletakkan tangan kanannya di pegangan escalator, kita sebagai pendamping dan sebagai orang yang ‘awas’ tentu akan bisa dengan mudah dan cepat menyesuaikan diri. Yang penting saat naik escalator, aku hanya perlu mengawasi balqiz, sementara ayah mengawasi kk alifah di belakang kami. naaahhh gimana kalo harus pergi bertiga saja? Perlu konsentrasi tinggi dan minimal keribetan atas bawaan di tangan, artinya pakai tas ransel atau tas selempang sehingga kedua tangan kita terbebas untuk menggandeng dua anak balita. Perlu juga jadi perhatian penggunaan sepatu/ alas kaki untuk anak-anak. Aku lebih suka memakaikan mereka sepatu kets agar mudah bergerak dan tidak terjadi selip yang biasa seringkali terjadi pada alas kaki dari plastik.

Untuk naik lift saat balqiz sudah mengerti, arahkan dia untuk mencoba mencari dan menekan tombol lift, kemudian buat suasana menyenangkan, dan saat memasuki lift jika tidak ramai, aku beri kesempatan balqiz untuk menekan tombol lantai yang menjadi tujuan, terlebih lagi apabila tombolnya sudah dilengkapi huruf Braille, dia akan senang sekali mencari sendiri lantai tujuan.

Laaaannntassss gimana dong bund, kalo belum sempat ditanamkan konsep sewaktu bayi/ kecil, anaknya dah gede nih, dan ortunya baru juga mulai belajar, anaknya tantrum terus kalo mau naik lift, jadi perhatian orang semoll, ngamuk, nangis, jejeritan…. Bikin frustasi ortunya nih,…. Niat mau seneng seneng jadi bĂȘte dan ujung ujungnya besok besok jadi males mau pergi pergi karena sudah terbayang keribetan dan tantrumnya.

Hehehehehe…. Jangan dong yaaa…. Jangan sampai bikin malas pergi, karena kapan anak bisa berkembang, bisa belajar, jika tidak berproses? Demikian juga orangtuanya.
Truuusss sebenarnyaaaa saat anak tantrum di depan umum, yang ujian sebenarnya bukan anaknya. Tapi orangtuanya.

Satu hal yang harus disepakati oleh suami-istri dengan anak gangguan penglihatan saat bepergian adalah, satu visi, satu hati. Niatkan pergi untuk santai, untuk proses belajar. Apapun kondisinya, apapun tantrumnya anak, jangan dijadikan sumber kebete-an, jangan dijadikan sumber emosi, jangan dijadikan sumber ketakutan.

Belum keluar rumah sudah pusing mikirin gimana nanti kalo tantrum. Hehehehehe,… mendingan mikir, kalo nanti anak tantrum, plan a gagal, plan b jalan. Dan seperti di awal bunda sampaikan. Yuk belajar memberikan informasi sebanyak banyaknya kepada anak. Diawal sudah disampaikan kira kira apa saja yang harus diinformasikan.

Kemudian, coba buat simulasi naik escalator dengan menggunakan tangga dirumah. Jadi pura-pura mau jalan jalan ke mall dan mau naik escalator.

Daaannn bermain masuk ke dalam lemari baju untuk berpura-pura naik lift…. Hehehehe ini permainan yang balqiz banget,.. sampai sekarang dia suka pretending naik lift dengan masuk ke lemari baju.

Cara lain juga menggunakan simulasi permainan saat jelang tidur. Saat jelang tidur, bunda sering bercerita dan kita berpura-pura, hari ini kita bisa berpura pura sedang berada dipantai, besok malam kita berada di gunung,… buat sebuah cerita dengan suasana menyenangkan, konteks bermain, letakkan telapak tangan anak diatas telapak tangan kita dan gunakan sebagai alat bantu saat memperagakan gerakan escalator, gerakan naik turun lift.

intinya, buat suasana santai, jaga suasana hati kita sebagai orangtua dalam kondisi santai dan menyenangkan.

anak anak kita dengan cepat akan bisa merasakan suasanya tidak nyaman jika suasana hati orangtua juga tidak nyaman.

Yuuuukkkk dicobaaa

#semogabisamenjadiberkahbuatsemua
#belajar







Jumat, November 07, 2014

baju terbalik

Pagi ini mendapat sebuah message dari seorang sahabat

“Bun, gimana ya caranya, ngatasin anakku supaya pakai bajunya gak terbalik? Duh aku iri liat acis sudah mandiri pakai baju dan gak pake terbalik-balik”

Hehehehehe….. psssstttt gak tau ajaaaaa kan, kalau bundanya ini masih suka ngomel liat acis yang pakai baju terbalik

gak tau ajaaaaa kan kalo aslinya si bunda juga gemes liat acis yang kadang udah tau bajunya terbalik tapi cuek ajaaaa easy going ngerasa gak perlu dibetulin lagi toh gak kemana-mana alias di rumah saja.

Untuk baju yang berkancing depan, cukup mudah menandainya, karena ada tanda posisi kancing bau yang ada di depan. Demikian juga dengan baju, celana jeans atau rok yang memiliki tanda ritsleting.
Yang agak kesulitan adalah kaos/ t-shirt, celana dalam, atau celana/ rok yang bagian depan belakangnya sulit dibedakan.

Untuk mempermudah bisa dengan menggunakan penanda label dari merek kaos/ t-shirt yang biasanya ada terletak di bagian sisi belakang. Namun tak jarang, bunda malah menggunting label tersebut jika dirasakan pinggiran dari label tersebut terasa tajam berakibat rasa gatal di leher apabila dikenakan.

Jadi sebagai penanda biasanya menggunakan pita kecil, atau kancing kecil yang dijahit di bagian belakang kaos atau apabila untuk celana dalam, dipasang di bagian sisi depan dari celana dalam.
Repot yaaaaaaaaaaaa….. hehehehe… kerepotannya setimpal kok dengan rasa ‘bangga’ saat melihat acis berhasil sukses memakai baju sendiri tanpa terbalik 





Senin, November 03, 2014

"LIAT" versi balqiz



buru buru note ini ditulis, biar gak lupa dan mumpung masih semangat nulis dan sebagai proses pembelajaran juga buat bunda.

seorang kerabat  terbelalak mendengar obrolan bunda dan acis,..

acis : ibuk,… semalam aku liat tikus gelantungan di teralis dapur
ibuk : oya? … trus acis ngapain? Tikusnya ditangkap tidak
acis : enggaklaaaaa, aku kan udah gede gak bisa ikutan gelantungan di teralis
ibuk : @#^*$)!($^&&%$$


A : heh… mim! Itu acis masih bisa ‘liat’ yaaaa
ibuk : gak,… kan udah dijelasin kalo acis buta total
A : lhaaaa…. Itu barusan dia cerita kalo ‘liat tikus gelantungan di teralis dapur’, masih ngkali dia bisa ‘liat’ samar-samar
Ibuk : yeeeeeeeee….. kok ngotot! Gak, acis itu buta total
A : heh @_@&$(@(!)*!~^^#!

“liat” versi acis adalah dengan cara mendengar, meraba, mencium, merasakan. Memaksimalkan indera lainnya.

Membantu anak dengan gangguan penglihatan, harus bisa melihat dari sisi si anak, bukan dari sisi orangtua. Ini yang terkadang terlupakan oleh orangtua, membungkus atas nama sayang tetapi yang sebenarnya adalah memunculkan keegoisan orangtua.

Menstimulasi fungsi indera perabaan, pendengaran, penciuman, perasa sehingga bisa dimaksimalkan untuk menggantikan indera penglihatannya. Dan proses stimulasi ini idealnya dilakukan sedini mungkin. Karena tidak serta merta anak-anak dengan gangguan penglihatan (selanjutnya saya menyebut dengan abk) ini piawai serta merta semua inderanya ‘tajam

Saat berkegiatan kita membiasakan diri untuk selalu melibatkan abk kita ini. Kita jelaskan secara detail apa yang kita lakukan dan apa yang ada di sekitar kita. Dan seperti yang sudah pernah bunda sampaikan bahwa, anak anak kita bak spon yang menyerap segala sesuatunya dan pada waktunya nanti akan dikeluarkan di saat yang tepat.

Sebagai contoh, di sini bunda berikan ilustrasikan mandi. Kegiatan mandi adalah sebuah kegiatan yang biasanya disukai anak anak, karena bermain air.

“yukkk acis, sudah sore, kita mandi ya nak” sebuah ajakan kepada anak, sambil memeluknya dan kemudian membantu membuka baju

“nah, kita buka baju dulu ya. Bajunya sudah kotor, yuk kita letakkan dulu ke keranjang ya” kegiatan dilakukan sambil membuka baju dan kemudian berlanjut anak diajak untuk meletakkan di keranjang pakaian kotor.

“waaahhh suara air ya cis” kegiatan dilakukan sambil membuka keran air dengan meletakkan tangan anak pada keran air dan merabakan secara keseluruhan pada keran tersebut sehingga anak punya gambaran bentuk keran air seperti apa. Walaupun belum kuat untuk memutar, anak mengetahui bahwa suara air berasal dari keran, dan bentuk keran air itu seperti apa.

‘nah, ini gayung yaaa, untuk mandi” anak ditunjukkan gayung dan kembali dirabakan kemudian dipergunakan untuk mandi

“mandi itu biar bersih kita pakai sabun… hmmm licin ya, tapi harum lhooo wangi sabun. Sabun itu kita sapukan ke badan ya nak… biar bersih menghilangkan keringat dan kotor… aaaa tadi kan kita sudah main, sudah jalan-jalan, badan jadi keringatan dan kotor” sambil berkegiatan, sambil anak dikenalkan sabun, wanginya, merasakan licinnya. Demikian juga untuk mengenalkan shampoo.

“sudah selesai…. Kita keringkan badan dulu yaaa dengan handuk. Hmmm handuknya lebar yaaa nak. Hehehehe… kenapa? Handuk itu untuk mengeringkan badan, dan agak kasar teksturnya” sambil merabakan kepada tekstur handuk yang biasanya agak lebih kasar dari kain biasa.

Jika terbiasa menggunakan bedak, atau lotion, tetap berproses sambil diinformasikan secara detail.

“biar cantik dan rapi, acis rambutnya disisir dulu yaaaa” sambil di rabakan sisir sekaligus disampaikan fungsi dari sisir adalah untuk menyisir rambut.

Semoga ilustrasi diatas bisa menjadi telaah dan proses pembelajaran.

Hehehehe….. pasti akan ada yang langsung berteriak, gak sempat bundaaa…. Mepet waktunya, repot, harus ina inu ini itu. Ya harus diakui memang, proses pembelajaran bersama abk kita membutuhkan waktu yang ‘lebih lama’.

Apalagi,… satu proses itu tidak hanya 1x saja dilakukan, tetapi berulang kali, ribuan kali harus diulang dan dijalani.
Repot? Ya.
Capek? Ya.
Butuh waktu? Ya.
Ribet? Ya.


 Tapi bisa dilakukan dan, harus dilakukan karena demikianlah cara abk kita belajar :)




Jumat, Oktober 24, 2014

kunjungan ke dr. tht



Minggu lalu saat balqiz berendam di kamar mandi, rupanya telinga kirinya kemasukan air. Selesai mandi sebenarnya dia sudah mengeluh. Sudah ibuk coba bersihkan dengan cotton buds namun katanya sih masih ada airnya. Karena gak berani terlalu dalam memasukkan cotton buds, segera disudahi dan biasanya secara perlahan nantinya air yang masuk akan keluar dengan sendirinya. Dan setelah itu tidak ada lagi terdengar keluhan dari acis, jadi ya tenang-tenang saja. Ibuk pikir ya masalah sudah selesai.

Namun ternyata, hingga beberapa hari kemudian kembali balqiz mengeluh kalau telinga sakit, bahkan saat terpegang daun telinganya saja sudah terasa sakit. O… oo… setelah di interogasi ya ternyata memang sejak kejadian kemasukan air itu dan setelah dicoba dibersihkan masih terasa tidak nyaman dirasakan.

Akhirnya diputuskan harus ke dokter tht. Cumaaaa mikir juga nih. Dokter tht yang dulu merawat balqiz adalah dr. Semiramis, SpTht yang prakteknya di RS PIK dan di THT Komunitas RSCM. Wew…. Rasanya kok wow banget ya jika harus ke blio dan harus menempuh jarak yang jauh serta merta terbayang adalah harus membelah kemacetan di dalam kota. Jadi dipilihlah ke RS Haji Pondok Gede saja yang deket. Sempet si ayah nyuruhnya ke RSIA Hermina Jatinegara aja, dimana medical record acis ada disana. Tapi ya itu dia yang ngadepin situasi kemacetan di jalanan kan ibuk bukan si ayah, jadilah si ibuk tetap memutuskan ke RS Haji saja yang terjangkau jaraknya dari rumah, jikapun gak bawa kendaraan sendiri masih bisa naik angkot.

Berangkatlah ibu, acis dan kakak alifah ke RS Haji. Daftar aja ke dokter THT yang sedang praktek saat itu. Wes gak pake milih milih dokter, dan gak sempet juga cari cari info tentang track record dokternya. Yang penting acis bisa segera mendapat diagnosa dan ditangani dengan baik. Jadilah di daftarkan ke dr. F, SpTHT oleh petugas administrasi yang menerima registrasi.

Alhamdulillah tidak terlalu ramai, hanya menunggu 1 orang pasien yang diperiksa sebelum balqiz. dokternya sudah sepuh, dan yang aku rasakan sih tidak terlalu ‘bisa’ berkomunikasi, cepat menyerah saat balqiz sempat menolak di pegang telinganya, maunya intervensi saat balqiz gelisah dan aku sedang berusaha menenangkan. Hmmmmm…. Lengkap kronologisnya adalah,..

Setelah menyampaikan keluhan yang dirasakan acis, dokter meminta acis duduk di kursi periksa, seperti biasa aku meminta waktu sejenak kepada dokter untuk acis orientasi sebentar, aku minta balqiz meraba dan kemudian duduk di kursi sembari aku menjelaskan bentuk kursi, kegunaan dan kenapa harus duduk disana. Belum selesai semua proses tersebut, sang perawat dan dokter yang sama sama tidak sabar, langsung mengeksekusi memegang kepala balqiz untuk bisa diposisikan telinganya. Bisa ketebak kaaaannn…. Balqiz langsung tereak dan berontak. Seketika sang dokter mengatakan ya sudah kalau gak bisa diperiksa. Nanti datang lagi kalo sudah bisa. Hiksss….

Si ibuk mpe bingung sendiri mau membujuk siapa dulu nih. Mau membujuk dan menenangkan acis dulu atau berargumen dengan sang dokter. Akhirnya aku tarik tangan kakak alifah dan meletakkan tangan kk di tangan acis untuk membantu menenangkan sementara aku berbicara dengan dokter. Kembali aku meminta waktu untuk membujuk balqiz dan menjabarkan kepada balqiz apa saja yang ada di sekitar dan juga berbicara dengan suster agar dia tidak memegang kepala balqiz tanpa permisi terlebih dahulu dan aku meyakinkan suster bahwa tanpa dipegang pun balqiz nanti akan menurut asal diberi waktu.

Singkat kata, akhirnya bisa membujuk balqiz sekaligus menjelaskan kepada sang dokter bagaimana berinteraksi dengan balqiz yang tunanetra. Balqiz bisa duduk tenang di kursi periksa dan menjalani pemeriksaan.

Yang terjadi adalah air yang masuk terperangkap dalam kantung udara di dalam telinga dan ternyata ada kotoran yang langsung dibersihkan. Waks…. Takjub juga melihat kotoran yang ada di dalam telinga, bentuknya berserabut, memanjang, berwarna hitam, mirip dengan tampilan biji kurma.

Ternyata masih ditemui team medis yang ‘belum’ bisa luwes berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Dari pengalaman ini, yang tertangkap bahwa mereka hanya berpikir cepat selesai dilakukan pemeriksaan dan tidak mencoba untuk berinteraksi agar pasien merasa nyaman terlebih dahulu.

Pelajaran buat kita semua, bagi para orangtua harus mempersiapkan ‘social story’ kepada anak saat akan ke dokter atau kemanapun, sehingga anak punya ‘gambaran’ apa yang akan terjadi pada dirinya sehingga bisa meminimalis reaksi tantrum anak. Harus diakui pula bahwa ‘bagian ini’ pun bukan hal yang mudah dilakukan, terlebih apabila abknya masih memiliki hambatan komunikasi.

Pelajaran bagi team medis sendiri dalam menghadapi anak-anak terlebih anak berkebutuhan khusus memang diperlukan waktu dan komunikasi yang tidak bisa disamakan dengan kondisi pasien umum. Membutuhkan ‘passion’ sendiri. tidak mudah memang, tapi yakin bisa.





Rabu, Juni 04, 2014

Hmmmmmm Yang ABK Yang Mana Ya?



Setting 
Lokasi : sebuah resto cepat saji
Dua meja berdekatan
meja 1 : seorang ibu dengan 2 anak berusia 8tahun dimana 1 anak adalah abk penyandang tunanetra
Meja 2 : sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu, 1 anak kira-kira berusia 8tahun juga, 1 pengasuh

Cameraaaaaaa…. Action…
Adegan 1 :
meja 1  : ibu beserta 2 anak sedang makan. Kedua anak makan sendiri hanya sedikit bantuan yang diberikan pada si abk yakni menjabarkan dimana posisi nasi dimana posisi lauk dan dimana posisi sayur, dimana posisi gelas minum.

meja 2 : ayah, ibu sedang makan, dan anak juga makan disuapin oleh pengasuh

Adegan 2 :
meja 1 : si anak abk saat menggerakkan tangan, gelas tersenggol jatuh dan tumpah membasahi meja

Dialog :
anak abk : ibuuu… minta tisu
Ibu : menyodorkan tisu ke tangan abk sembari membantu menyingkirkan beberapa peralatan. Si anak abk dengan keterbatasannya sembari meraba pada tangan kirinya mengusapkan tisu dengan tangan kanannya berusaha mencoba mengeringkan meja karena tumpahan air dari gelas minum.

meja 2 : si anak saat menggerakkan tangan, gelas tersenggol jatuh dan tumpah membasahi meja

Dialog :
anak : ibuuuuuuuuuuuu......
Ibu : mbaaaakkkk… buruan itu dilap (berkata kepada pengasuh)