Minggu, 18 Agustus 2013

tusuk gigi



Buat bunda, sekecil apapun kemampuan anak adalah sebuah prestasi besar yang bisa dilakukan oleh mereka. Ada perjalanan panjang dan kerja keras dibalik kemampuan tersebut. Sehingga bunda selalu merasa ‘amaze’ melihat kebisaan mereka.

Surprise aja, saat kita berada di salah satu resto dekat rumah, setelah makan balqiz berbicara,

“buk, tolong dong ada tusuk gigi gak? ada yang nyelip nih” pintanya. 

Segera aku mengambilkan sebuah tusuk gigi dan memberikan di jemarinya. Sempat aku menawarkan diri,

“mau dibantu?” karena biasanya dia minta dibantu untuk mengeluarkan ‘selipan’ di giginya
“gak!” katanya tegas

“oo.. ok” jawabku lagi, sembari terus memperhatikan, karena ini untuk pertama kalinya balqiz mau melakukannya sendiri.

Terlihat raut wajah ‘konsentrasi tinggi’ saat balqiz mencoba menggerakkan arah tusuk gigi, melebarkan mulutnya, mencoba mengeluarkan selipan makanan. Jangan ditanya soal ‘kegemesan’ bundanya yang pengen segera mengambil alih dan menuntaskan dengan cepat.

Dan,…….. ternyata bisa!!
Balqiz mengeluarkan tusuk gigi tersebut dengan sedikit ‘sisa makanan’ yang berhasil di keluarkannya dan dengan jemarinya dia meraba dimana piringnya berada dan meletakkan tusuk gigi di atas piring.

Goodjob my girl 


balqiz sedang menggerakkan tusuk gigi di antara geliginya

Rabu, 07 Agustus 2013

Senin, 08 Juli 2013

wartawan .. ooo wartawan



Kesempatan bunda untuk berbagi pengalaman dalam mengasuh Balqiz, serta aktif dalam beberapa komunitas disabilitas membuat beberapa kali bunda berinteraksi dengan wartawan. Baik media cetak maupun media televise, juga media radio, dan media internet. Hubungan baik serta kerjasama terjalin dengan menyenangkan.

Namun, pengalaman beberapa hari lalu, Kamis 4 Juli 2013, adalah sebuah pengalaman terburuk dalam berinteraksi dengan ‘wartawan’.

Setiap bulannya bunda dan balqiz mempunyai agenda untuk berwisata bareng “Jakarta Barrier Free Tourism - JBFT” yang dimotori oleh Teteh Cucu Saidah, Uda Faisal Rusdi, Mas Ridwan Soemantri, dan Om Jaka. Hingga bulan Juli 2013 sudah 16 edisi agenda wisata kami. Kilas cerita tentang JBFT adalah, ide awal yang dimiliki oleh ke-empat sahabat bunda mencuat melihat keprihatian tentang banyak hal sehubungan dengan fasilitas umum bagi penyandang disabilitas di negeri tercinta ini. Kami, para penyandang disabilitas, adalah bagian dari masyarakat, kami ada, kami nyata. Dan kami juga ingin bisa turut menikmati berbagai moda transportasi umum, berkunjung berwisata, dan berinteraksi dengan masyarakat. Selama proses berinteraksi inilah banyak hal yang bisa saling dipelajar dan dievaluasi. Bukan hanya bagi pemerintah, namun bagi masyarakat serta bagi para penyandang disabilitas serta keluarganya.

Maret 2012 adalah kegiatan JBFT pertama, kita berkumpul di Emperium Park, kemudian kita mencoba menaiki moda angkungat TransJakarta (TJ) menuju ke Monas. Hingga bulan Juli 2013 ini, sudah 16 edisi perjalanan. Sudah cukup banyak tempat yang kita kunjungi. Mulai dari Monas, Ragunan, Ancol, Museum Gajah, TMII, Mesjid Istiqlal, Bandung, dll.

Agak berbeda dengan JBFT biasanya yang diadakan di hari libur akhir pekan, JBFT #16 di bulan Juli 2013 ini, diselenggarakan di hari kerja, Kamis 4 Juli 2013. Yang membedakannya adalah bahwa JBFT mengajak bapak Gubernur DKI Jakarta, Pak Joko Widodo atau nama bekennya adalah Pak Jokowi, untuk bergabung bersama kami dan melihat secara langsung bagaimana dan apa yang harus dilengkapi dalam berbagai hal yang ada  fasilitas umum guna memudahkan para penyandang disabilitas.



Pukul 08.00 wib, kami semua sudah berkumpul di dekat Halte Balaikota, sesuai dengan koordinasi staff Gubernur. Person in charge dalam acara ini adalah Teteh Cucu Saidah. Beliau memberikan briefing banyak hal kepada kami semua, juga kepada para teman-teman media yang meliput.



Kehadiran teman-teman media ini tidak bisa dihindari. Segala sesuatunya tampak aman dan terkendali. Hingga sesaat jelang kehadiran Pak Jokowi yang disampaikan oleh salah satu ajudan beliau. Kami sudah siap dan berkumpul, Balqiz juga sempat memimpin doa agar perjalanan lancar dan dimudahkan.



Pak Jokowi yang sangat-sangat low-profile hadir di tengah-tengah kami, sosok beliau yang selama ini hanya bisa disaksikan lewat media, hadir nyata di depan kami. Balqiz memberi salam dan dibalas dengan sapaan ramah. Demikian juga teman-teman penyandang disabilitas lainnya disapa beliau dan sempat mengobrol dengan nyaman.




Namuunnn…. Kondisi menjadi chaos bin crowded saat mulai bergerak menuju ke dalam halte TJ dan antri membayar tiket serta menunggu datangnya TJ. Arus berdesakan dari teman-teman media lari sana sini mulai terjadi. Kesulitan bergerak mulai dialami oleh teman-teman pengguna kursi roda dan tunanetra.



Hingga saatnya bis TJ sampai di halte, entah gimana caranya kok tiba-tiba saja di dalam bis sudah penuh dengan teman-teman media, aka wartawan. Sehingga sangat menyulitkan dari teman-teman pendis yang akan bergerak masuk. Bahkan terlihat teh cucu juga kesulitan untuk menjelaskan kepada Pak Jokowi apa-apa saja yang seharusnya dilakukan dan apa-apa saja yang seharusnya difasilitasi.

Dengan susah payah bunda dan Balqiz akhirnya bisa masuk ke dalam badan bis dan duduk didalamnya.

Takjub, heran, dan merasa kuatir melihat laku para wartawan tersebut. Situasi kembali crowded sesampai di halte Senen. Wartawan berlarian, bahkan nekad loncat pagar, sikut sana dorong sini, demi bisa menjangkau Pak Jokowi, bahkan bunda merasa kok mereka gak peduli dengan kami para pendis, yang menjadi focus adalah Jokowi, Jokowi, dan Jokowi.


Balqiz sempat digandeng oleh Pak Jokowi dan saat digandeng itu, Balqiz bertanya ‘Ini tangan siapa?’ karena dia tahu bukan tangan bundanya yang menggandengnya. Dijawab oleh Pak Jokowi sambil tertawa “Ini tangan saya” dan baik Balqiz maupun Pak Jokowi tertawa bersama.

Dan tidak lama kejadiannya sangat cepat,… bunda dan Balqiz terdorong,.. dan karena sempitnya ruangan membuat rombongan terhenti. Disitulah nyaris sebuah ‘duel maut’ terjadi. Tiba-tiba mendesak dari arah belakang bunda seorang wartawan, dan karena stuck tidak bisa maju, dia berniat melonjat pagar pembatas halte, saat akan meloncat itulah kakinya nyaris menendang kepala Balqiz. Whuaaaaaaaaaaaaa ngajak perang itusih namanya. Emake langsung bertanduk dan berteriak marah. Saking marahnya mpe lupa teriak apa, yang jelas emake siap perang, siap duel maut. Bersyukur thu wartawan diselamatkan oleh ‘tantrum’-nya balqiz, sehingga perhatian bunda kembali ke balqiz, dan lepaslah si mas-mas entah dari media mana itu dari amukan bunda.

Menarik balqiz ke arah pinggir, dan menenangkannya. Dari kejauhan sambil memeluk Balqiz,  melihat kerumuman para wartawan membuat bunda kembali berpikir.

Ya selama ini yang berinteraksi dengan bunda adalah tipe wartawan ‘cerita’. Jadi mereka meliput cerita, berinteraksi dengan narasumber dengan cara yang ‘smooth’. Dan baru kali ini melihat sendiri bagaimana tipe wartawan ‘berita’ beraksi. Tuntutan akan aktualitas berita, sudut pengambilan gambar, menjangkau posisi terdekat narsum menjadi target mereka, mengabaikan segala hal, termasuk orang disekitar narasumber menjadikan mereka terlihat ‘garang bin sangar’

wartawan… ooo wartawan, catatan tentang JBFT#16


catatan :
-          Foto diperoleh dari album foto FB JBFT#16

Selasa, 04 Juni 2013

???



Tulisan ini terinsipirasi dari sebuah obrolan pendek, dan sampai bingung mau ngasih judul apa dari tulisan ini.

“bun, keponakanku sudah 7 tahun, dia terlambat bicara dan sekarang sekolahnya masih di tk. Kok gak terlihat ada kemajuan ya setelah sekolah”
“terlambat bicaranya menurut diagnosa dokternya apa”
“ada hambatan pendengaran bu”
“hambatan di sekolah menurut guru yang menangani apa?”
“nggg…. Ya katanya sih anaknya gak bisa ngikutin pelajaran”
“gimana kalo bersekolah di SLB”
“haaahh!! SLB bun? Aduuuhhh jangan dong bun. Masa di SLB sih”
“lhoo emang kenapa dengan SLB? Anakku sendiri juga sekolahnya di SLB kok”
“haaaahh? Bunda anaknya sekolah di SLB. Duh bun.. jangan dong. Kan malu kalo sekolah di SLB. Kan keponakanku gak cacat”
“abk, anak berkebutuhan khusus, bukan cacat”
“ya sama aja kan bun… gak ah, keluarga bakalan malu kalo ada yang sekolah di SLB”

Obrolan terhenti namun meninggalkan ‘pikiran’ pada diriku.

Rupanya masih ada stigma pada masyarakat yang menilai SLB dengan sesuatu yang ‘jelek’, ‘memalukan/ aib’ di tengah ‘kemajuan’ jaman saat ini.

Aku sangat mendukung program inklusi abk pada sekolah regular/ umum. Dan sangat berharap sekali satu saat kelak Balqiz bisa bersekolah inklusi di sekolah umum. Entah kapan waktu yang tepat itu, sedang dalam proses mempersiapkannya. Buat aku, persiapan berinklusi sangat penting, gak asal cemplungin anak di sekolah regular/ umum tanpa pembekalan yang matang. Apa saja? Banyak. Mulai dari lancarnya anak membaca menulis dan memahami pelajaran, sosialisasi yang baik, kesiapan mental, emosi.

Namun kembali lagi berpikir, bahwa ada beberapa kemungkinan yang bisa dianalisa kenapa seorang abk tidak bisa berprestasi dengan baik di sekolah umum.

Mulai dari belum ada kesiapan mental sang anak, sulitnya menjalin komunikasi antara anak dan guru/ lingkungan sekolah, ada hambatan pada abk yang belum terdeteksi, minimnya komunikasi pihak sekolah dan orangtua, dll.

Dan utama lagi dalam kasus diatas adalah totalitas penerimaan akan ‘keberadaan abk’. Diakui iya ‘abk tersebut’ ada, namun belum ada totalitas penerimaan akan abk tersebut. Penerimaan abk atas segala kelebihan dan kekurangan potensi yang ada pada dirinya.

Memang, secara kasat mata, penyandang disabilitas tunarungu/ tunawicara tidak terlihat. Mereka tidak terlihat ‘perbedaannya’ apabila berada di masyarakat, nanti setelah ‘berkomunikasi’ barulah perbedaan tersebut muncul.

Sehingga banyak hal yang harus di evaluasi dalam kasus diatas. Aku hanya bisa menyarankan untuk konsultasi kembali anak pada klinik tumbuh kembang yang merawatnya, sehingga bisa di evaluasi dan di deteksi adakah hambatan lain pada abk tersebut. Dan memberikan pandangan bahwa SLB tidak ‘sejelek’ yang selama ini menjadi ‘image’ di masyarakarat. Saran bagi orangtua dan keluarga agar bisa bergabung bersama parent support grup atau komunitas dari orangtua/ keluarga abk penyandang tunarungu/ tunawicara sehingga orangtua/ keluarga bisa memperoleh penguatan/ dukungan.

Tidak menutup kemungkinan bahwa tempat yang tepat bagi abk tersebut berada di SLB. Mungkin saja setelah bersekolah di SLB, prestasinya akan terlihat menonjol dan bisa berkembang dengan baik sesuai dengan usianya.

Karena anak berada di sebuah lingkungan yang kondusif, bisa menjalin komunikasi dengan sekitar, dan bisa memahami mata pelajaran dengan baik dan bisa meraih prestasi yang membanggakan. Sembari kemudian hari menata kembali dan mempersiapkan dengan baik kembali bersekolah di sekolah regular/ umum mengikuti program inklusi. Banyak kok abk yang juga sukses ber-inklusi. Dan banyak juga abk yang berprestasi di SLB.

Lagi-lagi, akar masalahnya adalah ‘totalitas penerimaan abk’ dalam keluarga. Masalah klasih. Namun adalah ‘peer’ besar.


Sabtu, 01 Juni 2013

huruf awas vs huruf braille


Sejak mengenal huruf Braille, satu yang selalu menjadi ganjelan dalam benakku adalah, sebuah buku dengan dual huruf. Huruf awas dan huruf Braille. Kok rasanya seneng kalau Alifah dan Balqiz bisa sharing buku. Semakin terasa sekali saat mereka berdua sudah semakin lancar membaca dan bisa memahami isi dari cerita yang terkandung dalam sebuah buku.

Rasanya miris banget saat membelikan buku untuk Alifah, dimana banyak sekali pilihan yang bisa diambil, namun Balqiz tidak bisa langsung ikutan membacanya. Aku harus membacakan buku tersebut, dan apabila ingin mencetak dalam huruf Braille, aku harus mengetik ulang dahulu buku tersebut dalam format word, kemudian membawanya ke mitranetra untuk bisa dicetak dalam format Braille. 


Apabila teks yang ada tidak terlalu banyak, aku bisa langsung membraillekan dengan menggunakan riglet, atau mesin tik Braille. Bila kertas buku terlalu tebal yang tidak mungkin bisa tertembus jarum riglet, aku membraillekannya di plastik bening dan baru ditempel dengan menggunakan double tape.




 
Kenapa harus buku? Ini karena kecintaanku pada buku. Sejak kecil aku sudah diperkenalkan dengan buku dan menyukai membaca. Gak heran kan kalau melihat ukuran kacamataku yang sudah mencapai minus 6,5. Atas dasar itulah tidak heran kalau Alifah dan Balqiz juga menyukai buku.  Konon, buku adalah jendela dunia. 

Untuk keperluan Balqiz memang harus ‘kerja keras’ memenuhi kebutuhannya atas bacaan. Jalinan kerjasama dengan Yayasan Mitranetra sangat membantu sekali dalam pemenuhan kebutuhan ini. Selain memesan buku yang sudah ada disana, aku sendiri juga sering mengetik ulang berbagai buku dan kemudian membawanya ke mitranetra untuk dicetakkan menjadi buku Braille.
 
Terlebih disaat menjelang libur panjang,… stok buku sudah harus mulai dicicil untuk bisa dibuatkan agar saat libur tiba, buku buku tersebut siap untuk dibaca balqiz.







Sekitar sebulanan yang lalu, kembali memesan buku di mitranetra. Ngobrol bersama mbak Indah Luthfiah penanggungjawab urusan buku Braille disana. Saat itu aku membawa dua buku cerita milik Alifah. Mbak Indah menawarkan untuk mencoba mencetak Braille langsung di buku cerita tersebut. Namun karena memang belum pernah dikerjakan, jadilah sebuah uji coba. Gak papa deh uji coba, kalaupun buku tersebut pada akhirnya rusak dalam proses, ya sudah diikhlaskan. Sebagai cadangan, aku sudah mengetik ulang isi dari buku cerita tersebut untuk diterbitkan buku braillenya. 

Lama berselang tidak ada kabar dari mbak Indah. Memaklumi juga pastinya kesibukannya yang banyak dalam memproduksi berbagai buku Braille dan kegiatan mitranetra. Gak berani juga buat nanya-nanya,… disatu sisi karena kuatir mendengar berita kalo uji cobanya gagal, kedua kuatir juga mengganggu mbak Indah terkesan memburu-buru. Hingga akhirnya, dua hari lalu, masuk sebuah sms yang mengabarkan bahwa pesanan kartu nama dan buku sudah selesai bisa diambil. Namun sama sekali mbak Indah tidak menyinggung soal buku cerita yang diuji cobakan. Ya wes, sudah berbesar hati menerima kalau uji cobanya gagal.



Kamis, 30 Mei 2013 sepulang sekolah Balqiz, kita mampir di mitranetra bertemu dengan mbak Indah. Urusan kartu nama dan pesanan buku dengan segera bisa diselesaikan. Udah hopeless, karena sama sekali mbak Indah gak ngomong soal buku ceritanya. Sesaat hendak pamit, tiba-tiba mbak Indah bilang, 

Ibu…. Aku lupaaaaa! Buku ceritanya juga sudah jadi. Bisa buuu… berhasil di braillekan” seru mbak Indah dengan wajah sumringah.

Haaa… serius mbak? Beneran bisa? Whuaaaa hebat” seruku gak kalah senangnya. Segera mbak Indah kembali ke ruangannya di lantai dua #hehehehehehe… gpp ya mbak.. jadi naik turun tangga untuk ngeladenin kita

Dan……. Mbak Indah kembali dengan dua buah buku cerita ditangannya, wow kereeeeennnn!!! Serasa meledak di dada melihatnya. Sebuah buku dengan dual huruf terpampang dihadapanku, huruf awas dan huruf Braille. Kalau gak malu dengan sekitar, pasti lonjat lonjat dan berteriak ^_^








Inilah yang dilakukan oleh mbak Indah, membongkar dahulu jilid dari buku cerita tersebut kemudian men-setting-nya dalam mesin cetak. Setelah sebelumnya trial and error dengan menggunakan dahulu kertas seukuran buku tersebut untuk mencetak sebagai dummy.  Setelah dummy sudah sesuai dengan harapan, barulah dicetak di dalam buku setelah sebelumnya teks cerita ditulis ulang dalam format word.



  Begitu sampai di mobil, belum sempat duduk dengan sempurna sudah ditagih sama Balqiz mana buku dia. Dan setelah aku ceritakan apa yang diperoleh, balqiz senang sekali dan antusias segera meraba buku dan membacanya.

Seketika kembali teringat akan cita-cita terpendam ingin membuat buku cerita anak dengan tema disabilitas serta dicetak dalam format dua huruf, awas dan Braille. Semoga bisa terwujud. Amin.





Terimakasih mbak Indah, terimakasih Mitranetra, terimakasih sahabat,…. Mohon doa bagi kami supaya tetap semangat dan terus giat berkarya. Inshaa Allah menjadi ladang amal dan berkah bagi banyak orang, terutama anak-anak tunanetra.