Selasa, Januari 24, 2012

inklusi vs slb

Alhamdulillah.... usia balqiz bulan ini menginjak 6 tahun 4 bulan. rasanya setiap hari yang dilalui bersamanya adalah perjuangan dan penuh dengan proses pembelajaraan tiada henti. Patut disyukuri adalah proses tumbuh kembang balqiz yang amat baik dan tidak ada lagi terlihat jejak jejak delay development yang pernah dia alami.

Balqiz tumbuh sehat, kritis, penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi, cerewet, jika bermain bersama dengan saudara, tetangga, akan sulit terlihat bahwa dia adalah anak berkebutuhan khusus. seorang penyandang tunanetra.

Tahun ajaran 2012 - 2013 mendatang balqiz memasuki usia belajar sekolah dasar. 4 tahun menjalani program Early Intervention (Pendidikan Dini) di SLB Dwituna Rawinala, rasanya cukup memberikan dasar bagi pendidikannya.

Wacana untuk mengikuti pendidikan inklusi sudah aku pikirkan, bahkan sudah survei ke sebuah sekolah dasar negeri di daerah Kramat Jati yang memang menerima anak anak berkebutuhan khusus. Terlebih mengingat SDN tersebut juga merupakan salah satu SDN yang ditunjuk oleh Diknas untuk membuka progam inklusi.

Berbagai persiapan sudah dilakukan,.. namun setelah mengevaluasi banyak hal serta berdiskusi dengan banyak pihak, aku menilai, melihat bahwa balqiz belum siap untuk mengikuti program inklusi. Yang akhirnya membuahkan sebuah keputusan Balqiz akan menempuh pendidikan dasarnya di SLB bagian A. Dan tidak banyak pilihan yang ada, SLB A yang ada di Jakarta terletak di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Cukup jauh lokasinya memang dari rumah di wilayah pondok gede bekasi, Insya Allah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk bisa menempuhnya setiap hari.

Banyak aspek yang harus dipersiapkan sebelum seorang anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti program inklusi pada sebuah sekolah umum. Buat aku, tidak cukup hanya anak memiliki potensi intelektual yang baik sehingga bisa mengikuti materi akademik yang diajarkan. Tetapi ada aspek mental psikologi yang harus dipersiapkan sebelum anak 'dicemplungkan'.

Berbagai komentar pro maupun kontra disampaikan atas keputusanku ini. Semua aku terima dengan baik dan menjelaskan seringkas mungkin pertanyaan yang disampaikan. Dan memandangnya bahwa berbagai komentar yang aku terima adalah sebuah bentuk perhatian bagi kami.

Keinginan untuk bisa menempuh pendidikan di sekolah umum yang membuka program inklusi tetap menjadi 'obsesi' terlebih jika ada kesempatan hingga bisa menempuh pendidikan tinggi. namun tidak dalam tahun ajaran depan. Bisa dua tiga tahun mendatang, atau nanti saat smp. Biarlah kami mempersiapkan Balqiz hingga dia benar benar mampu dan tangguh secara akademik maupun mental psikologinya. Aku yakini bahwa kami bisa, Balqiz bisa!!





balqiz n bunda@studio B Channeltv, obb langkah kecilku