Jumat, Mei 14, 2010

kebiasaan menekan mata (part 2)

bunda sudah pernah menulis tentang artikel ini di blog balqiz dan dikarenakan ada pertanyaan kembali dari beberapa sahabat jadi sekarang bunda akan membahas ulang mengenai hal ini.

sebelumnya,
mari kita coba sendiri, pejamkan mata dan kemudian tekan kelopak mata kita agak dalam.
apa yang terjadi????

muncul klap klap pendar pendar cahaya,
semakin kuat lagi menekan,..
cahaya yang muncul aka menyerupai bentuk lingkaran atau bentuk bentuk abstrak
terkadang warna yang muncul pun berbeda beda, bisa kuning kehijauan, jingga atau putih.

sebuah sensasi yang menyenangkan buat anak anak yang mengalami gangguan penglihatan, baik low vision maupun tunanetra.

itulah penyebab mengapa anak anak tersebut suka sekali menekan matanya. dan masing masing anak memiliki keunikan sendiri. ada yang hanya mata kanan atau kiri saja, atau kedua-duanya sekaligus. ada yang menekannya dengan jempol tapi ada juga yang hingga menggunakan kepalan tangannya.

sebuah rasa 'senang' dan 'nyaman' memang. tetapi berakibat buruk kepada mereka. lhoooo kenapa?
sebuah pertanyaan dari seorang sahabat langsung diutarakan
'lhoooo kenapa bunda? kan buat anak anak adalah sebuah penghiburan, dimana mereka hanya gelap dan gelap trus tiba tiba ada sensai pendar cahaya'

ya benar, kalo dilihat dari sisi 'penghiburan' memang alasan yang dikemukakan oleh sahabat tersebut benar adanya. tetapi bagaimana dengan dampak buruknya? apa seh dampak buruknya?

konstruksi tulang mata adalah konstruksi tulang rawan. ditambah dengan usia anak-anak tersebut yang masih balita dimasa masa pertumbuhan masih berlangsung. tekanan tekanan yang terus menerus dilakukan oleh anak anak akan merubah kontruksi dari tulang tersebut. sebab itulah pada banyak kasus terlihat wajah dari anak-anak tunanetra yang pada bagian matanya terlihat lebih cekung atau tidak simetris.

tindakan menekan mata tersebut, akan semakin kerap dilakukan tidak hanya karena iseng saja. tetapi jika anak dalam kondisi/ situasi yang tidak nyaman, stress, panik, atau tidak ada yang dikerjakan, maka kuatlah mereka menekan nekan matanya.

bagaimana mencegahnya?
ya harus dilarang!

'tidak tega bunda!'
'kalo dicegah pasti marah marah'
'kalo dilarang cuma sebentar nurut tapi semenit kemudian pasti langsung ditekan lagi'
itu beberapa bantahan yang terlontar oleh beberapa orangtua.

kalo nurutin tidak tega, selamanya akan tidak tega
kalo nurutin marah marah, rasanya anak anak 'normal' pun jika dilarang melakukan hal hal yang disenangi juga sudah pasti marah marah
cuma sebentar nurutnya, ya kalo begitu harus dicarikan teknik lain atau kegiatan yang bisa menyibukkan mengalihkan perhatian anak

balqiz sendiripun belum berhasil benar benar lepas dari kebiasan tersebut. jika balqiz sedang panik/ nervous, atau bengong tidak ada yang dikerjakan, sudah pasti jemarinya otomatis akan terpasang pada matanya. walaupun 'tidak parah' konstruksi tulang wajah pada sisi kiri balqiz terlihat agak cekung.

bagaimana bunda melarangnya,... ya dengan dilarang. dan balqiz sudah hapal sekali. jika bunda sudah berkata 'balqiz! tangannya...' dia akan segera melepas jarinya. jika dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk berbicara sementara kita berada disebelahnya, kita tepiskan jemarinya.

mau tidak mau ya memang kita harus rajin untuk menepis jemarinya. tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiii.... kalo masih bandel juga, sebuah sentilan di jarinya sudah pasti bunda layangkan.

dan memang diperlukan kesabaran, ketelatenan, dan usaha yang terus menerus serta kerjasama yang baik dari semua pihak. mulai dari orangtua, pengasuh, guru kelas, dan keluarga serta orang-orang disekitar kita. tidak mudah tetapi bisa dilakukan!

jadi sekarang bunda kembalikan lagi kepada sahabat sekalian.
mau memberikan 'penghiburan' dengan sensasi sensasi pendar cahaya dengan sebuah resiko berubahnya konstruksi wajah anak, atau menggiatkan diri untuk rajin menegur, melarang anak-anak. silahkan,..

Selasa, Mei 04, 2010

100% atau...........???

sebuah obrolan bunda hari ini dengan seorang sahabat cukup menggelitik hati bunda.
sahabat ; 'bla bla bla..... berarti bunda ngerti banget dong bagaimana balqiz!'
secara refleks bunda menjawab ; 'iya'

tapiiiiiiiiiiiiii,...........
setelah sesi ngobrol usai, bunda kemudian merenung.
benarkah bunda sangat mengerti balqiz? sehingga muncul lagi pertanyaan yang sudah pernah bunda lontarkan, seberapa jauh kita mengenal anak kita?

sisi egois sebagai seorang ibu, pasti spontan mengatakan ya 100% kenal bagaimana anak kita.
sisi realitas? 99%? 80% 40% atau bahkan hanya 3%?
akhirnya bunda sendiri tidak bisa meng-quarantee jika bunda mengenal 100% anak-anak bunda. paling poll.... 90%.

sebagai contoh,.. (1) melihat kesukaan balqiz dalam hal musik, sejak tahun lalu balqiz belajar musik dengan guru yang datang kerumah tetapi kemudian terputus karena sang guru pindah rumah dari sekitaran pondok gede ke daerah parung. sempat vakum akhirnya mencoba mencari cari tempat kursus musik yang berada disekitar pondok gede yang mana pada akhirnya hasilnya adalah nol besar. berkat rekomendasi dari salah satu sahabat bunda, akhirnya dapat juga guru musik yang bisa datang kerumah. namun apa yang terjadi..... balqiznya yang gak mau belajar, 2 kali kehadiran yang berakhir dengan gagal total.

saat itu yang ada dalam benak bunda, terjadi hanya karena kerewelan balqiz pada sebuah suasana yang baru, orang baru dan kepanikan balqiz yang memang seringkali muncul jika harus berhadapan dengan orang baru atau berada dalam situasi yang baru, hal ini dikarenakan balqiz memang masih belajar mengolah 'emosi' masih taraf belajar dalam 'memanaj dirinya'

hampir 2 bulan bunda baru bisa menemukan jawabannya
yaituuuuuu.... balqiz menyimak sebuah janji di salah satu tempat kursus yang sempat kita datangi, bahwa nanti baru di bulan agustus 2010 ada pembukaan kelas baru, sehingga nanti bulan agustus baru balqiz bisa ikut les musik disana. dan itu yang menjadi dasar dirinya menolak belajar musik dari guru yang datang kerumah. dan.........

point penting lainnya lagi adalah penemuan rasa 'iri balqiz' terhadap kakak alifah, karena setiap sore kakak alifah pasti pamit ke balqiz, 'dek, kakak TPA dulu ya' rupanya balqiz juga pengen dia punya sebuah aktifitas diluar rumah dimana dia bisa berpamitan dengan kakaknya, dia pengen bisa berkata 'kak, adik mo les musik ya'

contoh lain (2)
beberapa minggu yang lalu bunda dan balqiz diundang menghadiri sebuah event 'You Are Special' dari sebuah sekolah. sudah jauh jauh hari bunda memberikan segala informasi kepada balqiz tentang acara tersebut, terlebih lagi karena balqiz juga diminta untuk memainkan angklung. namun apa yang terjadi pada saatnya? balqiz mogok tidak mau bermain angklung padahal sudah berada diatas panggung. sempat diberi motivasi, pada akhirnya sempat juga memainkan sebuah lagu tetapi tidak penuh.

sudah seminggu berlalu barulah bunda tahu penyebabnya,... yang ada dalam konsep balqiz adalah, dia akan bermain angklung setelah 'bundanya berbicara memberikan testimoni'. namun yang terjadi di acara tersebut, karena waktunya tidak memungkinkan akhirnya bunda tidak jadi berbicara menyampaikan testimoni dan balqiz langsung diminta main angklung. balqiz hanya berkata 'bunda tidak berbicara balqiz tidak main angklung'.

jadi penyebab balqiz tidak mau bermain angklung bukan karena dia nervous atau demam panggung atau panik karena berada dalam sebuah ruangan yang baru dan penuh dengan hingar bingar,.... tetapi karena pada saat itu sebenarnya balqiz sedang menunggu 'bunda berbicara' barulah dia memulai bermain angklung.

masih banyak contoh2 lain yang membuat bunda semakin berpikir, seperti menata puzzle rasanya, menghubungkan satu potongan dengan potongan lainnya., hasil dari merangkai ocehan ocehan balqiz yang terkadang meloncat-loncat dari satu topik ke topik lainnya. sempat mengutuk diri sendiri sebenarnya,.... boleh dibilang kalo 24jam bunda bersama anak-anak tapiiiii kok masih juga 'tidak mengenal' anak-anak bunda.