Senin, November 30, 2009

tega!!

seperti biasanya balqiz menjemput alifah di sekolah, karena memang waktu pulang balqiz lebih cepat 1 jam dari waktu pulang alifah. sambil menunggu biasanya balqiz bermain di playground sekolah. saat kelas alifah sedang berbaris menuju pintu gerbang, bunda dan balqiz pun beranjak dari playground menuju gerbang sekolah.

setelah alifah keluar, beranjaklah kita menuju mobil. saat itu balqiz tidak mau berjalan, dia mengkaitkan kakinya ke kaki bunda. bunda tetap memaksa balqiz untuk berjalan, tidak mau menggendongnya, sekaligus berkata agak keras 'balqiz jalan!'. kita tetap berjalan menuju mobil walau diiringi dengan rengekan balqiz.

sebuah komen terlontar dari seorang 'eyang' yang menjemput cucunya;
'kenapa?'
'tidak mau jalan'
'ya sudah digendong saja. kasian kan udah gak liat masih juga dipaksa buat jalan sendiri'
dengan tidak memerdulikan komen tersebut, bunda tetap memaksa balqiz berjalan menuju mobil, toh jaraknya juga tidak jauh hanya sekitar 5 meteran.





melihat video diatas, dimana balqiz berjalan dari arah rumah ke rumah titi (neneknya) yang hanya berjarak 1 blok saja. bunda katakan bahwa 'proses berjalan' itu tidak terjadi dengan sendirinya!!! melainkan penuh dengan kerja keras, penuh dengan tangisan, rengekan, penuh dengan protes dan mungkin sebenarnya buat orang yang menyaksikannya sudah pasti pengen nyambit bunda pake batu segede gaban barangkali!!! dan waktu yang tidak bisa dibilang sebentar; 1 tahun!!! selama masa belajar berjalan itu, tidak terhitung balqiz menangis dan kemudian berlanjut dengan guling-guling dijalanan karena tidak mau berjalan.

tidak hanya dirumah saja, proses balqiz mau berjalan dari kelasnya menuju mobil tanpa digendong pun memakan waktu hampir 2 semester lamanya. juga penuh tangisan, rengekan, an berguling guling di halaman sekolah.

mungkin 'sang eyang' tadi juga berkeinginan yang sama, pengen nyambit bunda.

asal tahu saja,... sebenarnya bunda harus berperang batin. menebalkan tekad, menebalkan 'urat tega', membangun tembok yang sangat tebal dan kokoh untuk bisa tidak menangis!!!!! kalau nurutin hati, apa sih susahnya tinggal angkat anaknya dan gendong, masuk mobil, beres! tetapiiiiiiiii sampai kapan seperti itu??? jadi sebenarnya, jika yang terlihat bahwa bunda 'kejam' dengan membiarkan sang anak menangis, merengek, bahkan sampai berguling-guling dijalanan..... dalam hati bunda 'menangis' dan ingin segera menyudahi dengan menggendong dan memeluknya. tetapi, bukan seperti itu sebuah 'pembelajaran'.

sebagai ibunya, aku tahu kapan balqiz bersikap manja, dan kapan dia dalam kondisi 'panik'. kondisi siang tadi adalah sikap manja balqiz yang keluar, itulah sebabnya aku tetap memaksa balqiz untuk berjalan, berbeda jika memang balqiz dalam kondisi 'panik' tentunya aku akan memproteksinya.

negara tercinta kita, hingga saat ini, belum 'ramah' terhadap disable/ difable/ ABK/ orang cacat/ apapun istilahnya.... 'dunia diluar sana' masih teramat kejam. jika balqiz tidak kuat mentalnya, dan selalu bergantung kepada orang lain, sampai kapanpun dia tidak akan bisa mandiri dan maju. sementara tempaan diluar sana teramat keras dan 'kejam'. itu poin 1.

kemudian, sampai kapan bunda bisa terus mendampingi balqiz?? umur bunda adalah rahasia besar Allah SWT, kapanpun bunda bisa meninggal, mati! dan jika bunda tidak mempersiapkan balqiz dengan baik selama bunda masih hidup, selama bunda masih diberi umur,... sampai kapanpun balqiz tidak akan siap. pada saatnya bunda mati, ya otomatis balqiz pun akan mati separo hidupnya. dan bunda tidak ingin itu terjadi, poin 2.

oke, balqiz memang punya saudara kembarnya, alifah. tetapi sama dengan kondisi bunda.... sampai kapan alifah bisa terus mendampingi balqiz?? alifah pun pada waktunya nanti akan mempunyai kehidupan sendiri, sehingga janganlah nantinya balqiz menjadi 'beban' bagi alifah kelak, lantas alifah sendiri pun juga mempunyai umur yang terbatas pula.

intinya, tujuannya adalah, kemandirian balqiz. dan itu melalui sebuah proses yang panjang serta tidak mudah.

dan bunda juga tahu, kapan saatnya memeluk dan menyayang anak.... meluluskan segala kemanjaan mereka. bisa dipercaya memiliki mereka adalah sebuah hal yang termata istimewa buat bunda, terlebih mengingat perjalanan panjang untuk bisa memiliki mereka.

Sabtu, November 14, 2009

seatbelt vs terowongan


bulan ini banyak sekali hal-hal baru yang dipelajari oleh balqiz. untuk pertama kalinya balqiz bisa duduk sendiri dimobil dan menggunakan seatbelt. kemudian pencapaian terbesar adalah balqiz mau juga ber-ekplorasi dengan 'terowongan'.

selama ini jika bepergian, balqiz belum mau duduk sendiri. maunya dipangku menghadap ke dalam dan berposisi memeluk bunda atau si embak. kalaupun sesekali mau duduk 'hadap depan' (istilah balqiz) itu hanya sebentar saja, begitu misalkan mobil melewati lubang atau nge-rem mendadak, atau berbelok, serta merta balqiz merasa panik dan kembali lagi minta dipangku.

berulang bunda selalu bisikkan jika memangku balqiz, bahwa balqiz sekarang sudah 4 tahun umurnya, sudah besar, badannya pun sudah semakin besar. jadi kalau dipangku pastinya juga semakin berat dan tidak nyaman juga kan kalau duduk dipangku. lebih enak jika duduk sendiri. dan biar balqiz tidak panik, tidak bergerak jika sedang duduk sendiri di mobil nanti balqiz pakai seatbelt.

tidak mudah dan butuh waktu. mengenalkan 'seatbelt' pun juga butuh waktu. sudah bisa ditebak, awal-awal pembelajaran selalu penuh dengan teriakan dan tangis. tak jarang tendangan kaki balqiz pun melayang ke wajah bunda,..

satu kunci dari proses pembelajaran adalah kontinuitas. walau hanya sebentar tetapi tiap bepergian dicoba. minggu ini kejutan buat bunda,.. tanpa perlawanan dan protes binti panik bin tangis,... balqiz sukses duduk sendiri dan menggunakan seatbeltnya. Alhamdulillah,..

lantas, yang bikin kepala bunda pusing plus agak agak memancing emosi di beberapa minggu belakangan adalah kepanikan balqiz setiap hari senin dan selasa. jadwal kegiatan balqiz setiap senin adalah berenang dan jadwal kegiatan hari selasa adalah olahraga.

sebenarnya balqiz senang berenang, hanya saja kolam renang di sekolah memang agak dalam, jadinya balqiz tidak bisa menjejak dasar kolam. itu yang menjadi 'sumber kepanikan' balqiz. jadilah setiap saat mau berenang di sekolah, panik dan nervous bahkan tidak jarang pake acara mun-mun dikelas. walaupun sebenarnya kalau sudah masuk ke dalam air ya dia akan menikmati juga.

tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.....
kepanikan balqiz dihari senin masih bisa dinetralisir sendiri oleh dirinya, tapi tidak untuk hari selasa. sumber kepanikan balqiz adalah 'terowongan'. balqiz sama sekali tidak mau menyentuh apalagi masuk ke dalam terowongan. semakin hari kepanikan balqiz semakin tidak masuk akal. sampai-sampai jika hari selasa tiba, balqiz tidak mau mandi, dengan harapan jika tidak mandi maka tidak berangkat sekolah >.<

sempat berbicara dengan ibu guru balqiz yang berencana me-reject program tersebut, dikuatirkan akan mengganggu mentalnya. bunda akhirnya berpikir dan merenungkan apa yang sebaiknya bunda lakukan. karena kalau melihat keseharian tingkah laku balqiz, menurut bunda rasanya gak masuk akal jika balqiz sampai takut dengan 'terowongan'. yaaaa... dia loncat dari kursi aja berani, naik naik teralis jendela sampai diatas juga hayoo,..

akhirnya bunda putuskan mencoba meminjam 'terowongan' tersebut ke rumah, untuk melihat apa reaksi balqiz. jika memang usaha bunda tersebut gagal, ya sudah bunda akan meminta ke sekolah untuk mereject kegiatan tersebut.

dan hasilnya???????????????????
mengejutkan sekali!!!
karena ternyata prosesnya tidak sampai 15 menit, balqiz akhirnya mau memasuki terowongan itu!!!!!!!!!!

duh nak,.... kamu selalu penuh kejutan!

Rabu, November 11, 2009

Pendidikan Inklusi

Alhamdulillah hari Jumat 6 November 2009 lalu bunda dapat kesempatan menghadiri Refleksi Penyelenggara Pendidikan Inklusi atas undangan HKI. Sebuah kesempatan yang sayang dilewatkan mengingat bunda memang sedang dalam proses mempersiapkan Balqiz untuk bisa mengikuti pendidikan inklusi. Dan apa yang bunda peroleh memang berharga sekali buat bunda.

Apa sih inklusi itu? Buat banyak orang kata ‘inklusi’ memang belum familiar, apa seh inklusi itu????

Singkat kata; Pendidikan inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan bagi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang secara akademik/ intelektual mampu bersekolah di sekolah regular/ umum.

Jadi idealnya sekolah manapun tidak boleh ‘menolak’ siswa ABK yang mendaftar masuk. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua sekolah mau dan siap menerima ABK. Banyak hal yang ‘menghalangi’

Terhitung sejak tahun 2005, dimana ada beberapa sekolah yang telah ditunjuk sebagai model ‘sekolah inklusi’.

Bunda simpulkan bahwa beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam menjalani pendidikan inklusi;

· Kesiapan ABK
· Kesiapan orangtua
· Sekolah tujuan
· Sarana prasarana
· Lingkungan
· GPK

v Rasanya 2 poin teratas yang paling penting dari segalanya. Kesiapan mental dari ABK dan orangtua. Karena objek utamanya ya ABK tersebut. Dengan pendampingan orangatuanya.

Walaupun poin-poin yang lainnya bukan berarti tidak penting, semuanya adalah saling mendukung dan berkaitan.

v Sekolah tujuan memang harus memiliki kesiapan tersendiri dalam menerima ABK untuk bisa ber-inklusi. Banyak sekolah yang mengemukakan beribu ‘alasan’ untuk membenarkan ‘menolak’ ABK. Sehingga yang terjadi adalah sekolah yang siap dan bersedia menyelenggarakan Pendidikan Inklusi letaknya jauh dari tempat tinggal. Sedangkan idealnya sekolah inklusi adalah berlokasi terdekat dari tempat tinggal.

Alasan yang umum diberikan pihak sekolah adalah;
· Sekolah tidak siap
· Tidak ada sarana prasarana
· Guru tidak berkemampuan meng-handle ABK
· Memikirkan ‘image’/ mutu sekolah
· Protes dari komite (orangtua siswa)


Sebenarnya kalau berbicara soal ‘siap’ rasanya semua sekolah harus siap, dimana perangkat UU-nya sebenarnya ada dan sudah jelas. Ditambah untuk daerah DKI ada PerGub-nya. Ditambah lagi saat ini yang baru saja ditandatangani adalah PerMen No. 70 Tahun 2009.

Hanya saja pada pelaksanaannya dikarenakan tidak adanya punishment dari perangkat UU yang ada, maka sekolah merasa ‘sah-sah’ saja untuk menolak siswa ABK.

Kalau yang disinggung soal ‘image’ ini yang bikin pusing,
‘bu, sekolah saya kan sekolah favorit! Trus kalo saya terima anak ibu, nanti sekolah saya gak jadi favorit lagi’
‘bu, nanti kalo saya terima anak ibu, trus mutu sekolah saya turun dong’
Atau…
‘bu, nanti gak ada lagi yang daftar ke sekolah sini, karena dianggap ini sekolah SLB’

Belum lagi jika adanya protes dari berbagai orangtua siswa lain, tidak mau anaknya bergaul dengan ABK. karena masih banyak masyarakat yang menganggap ketunaan sebagai ‘aib’, sebagai sesuatu yang ‘aneh’, sebagai sesuatu yang ‘punya dunia sendiri dan tidak seharusnya berada dalam lingkungan masyarakat norma;’.

v Sarana prasarana sekolah pun harus diperhatian, sebagai contoh untuk gedung sekolah yang bertingkat tentunya harus memikirkan bagaimana meng-handle ABK tunadaksa yang harus menggunakan kursi roda, kemudian tangga yang terjal pun harus diperhatikan penggunaannya bagi ABK tunanetra.

Termasuk didalamnya penyediaan buku buku braille yang diperlukan oleh ABK tunanetra, dan sistem ujian berikut ijasah bagi ABK Kesulitan Belajar.

v Lingkungan pun berperan penting, terutama dalam pembinaan mental psikologis anak. Diperlukan totalitas penerimaan lingkungan bagi ABK. Tidak hanya dari manajemen sekolah, tetapi juga dari para siswa lain, para orangtua.

v GPK disini adalah Guru Pendamping Kelas. GPK amat sangat diperlukan bagi ABK. Untuk pendampingan ABK di kelas, sebagai mediator antara ABK, guru, orangtua. Namun yang amat disayangkan keberadaan GPK ini juga membingungkan. Membingungkan buat siapa? sekolah mengatakan ‘tidak ada dana’ untuk bisa mengadakan GPK, bagi orangtua sendiri tidak semuanya berkemampuan untuk ‘meng-gaji’. Sementara menanti pengangkatan GPK oleh pihak pemerintah (dalam hal ini diknas), entah sampai kapan penantiannya berakhir. Pembiayaan dari LSM-pun terbatas. Dan idealnya GPK hanyalah GPK tidak merangkap sebagai guru kelas. Dikarenakan memang beban pekerjaanya pun rasanya tidak memungkinkan untuk dirangkap. Namun kenyataan yang ada dilapangan adalah GPK merangkap sebagai guru kelas.

Dan,...

Dengan begitu kompleksnya permasalahan inklusi ini, jujur membuat bunda ciut hati untuk bisa menjalani pendidikan inklusi bagi Balqiz. Kesannya jadi ‘Kalah sebelum Berperang’. Dalam hati bunda merenung, sanggupkah bunda mendampingi Balqiz, sanggupkah Balqiz menjalaninya?.

Setelah bunda telaah renungkan kembali, apa sih yang membuat hati bunda ‘ciut’???? yang bikin bunda ciut hati adalah, jika harus ‘babat alas’ (istilah; membuka jalan). Kenapa? Mengingat saat ini lokasi sekolah yang sudah ber-inklusi letaknya jauh dari tempat tinggal bunda. Jadi jika bunda memilih lokasi sekolah yang dekat dengan rumah, otomatis harus memulai kondisi ‘babat alas’, memulai dari sebuah angka 0 besar.

Bunda merasa; tidak mudah mengenalkan konsep inklusi untuk sebuah sekolah yang ‘belum mengenal inklusi’. Rasanya yang tergambar didepan mata adalah ‘penolakan’!

Mungkin jika nyemplung dalam sekolah yang telah ber-inklusi, bunda tidak se-ciut ini nyalinya.

Rasanya seperti pesimis, siapa tahu ternyata Balqiz amat sangat siap menjalani pendidikan inklusi? Who knows,...