Jumat, Juli 03, 2009

menata hati

andai saja bisa tawar menawar dengan Allah, saya sudah pasti akan berada di urutan pertama melakukannya. tetapi memiliki anak berkebutuhan khusus bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima. penerimaan orangtua ABK inilah yang menjadi sebuah 'pekerjaan' besar. urusan penerimaan adalah urusan 'hati'.

dari banyak obrolan dengan para orangtua, baik di lingkungan sekolah balqiz, di lingkungan lsm, maupun pada kesempatan2 ngumpul bersama para orangtua dari anak berkebutuhan khusus. ada satu yang menjadi kesamaan hal, yakni; semua orangtua melalui sebuah tahapan 'menata hati'.

yang membedakan hanya soal waktu. ada yang cepat, ada yang lambat, dan ada juga yang sama sekali tidak pernah sanggup untuk 'menata hati'-nya. ada dimanakah aku?!

terkadang orangtua ABK merasa sudah memenuhi kewajibannya untuk memberikan perawatan, pendidikan bagi anaknya. namun apakah dirinya sudah benar-benar 'menata hati'nya?

beberapa kasus yang sudah terjadi, orangtua sudah menyekolahkan anaknya pada sebuah lembaga khusus. namun setelahnya? ternyata orangtua masih berperang dengan 'hati'nya sendiri, terbukti setelah dari sekolah dan anak kembali kepada orangtuanya, orangtua tetap tidak siap dengan anaknya.

ada juga dengan kasus, pasangan orangtua yang memiliki jabatan 'tinggi' dan cukup terkenal dalam masyarakat memilih untuk menyembunyikan saja anaknya dirumah demi 'nilai tinggi' tersebut.

saya sendiri, hingga detik ini pun, masih belajar dan belajar untuk bisa 'menata hati'. saya berharap saya berada dalam deretan 'orangtua yang cepat bisa menata hati-nya'. modal 'menata hati' inilah yang membuat saya bisa 'berpikir jernih' demi memberikan yang terbaik buat anak-anak saya,.. terutama balqiz.

cara saya 'berpikir jernih' terkadang mengabaikan banyak hal. salah satunya adalah ; mengabaikan 'apa yang ada dalam pikiran orang',
mengabaikan 'apa kata orang'.
dan berusaha senyaman mungkin dengan kondisi tersebut.
jika saya nyaman, maka saya akan bisa memberikan kenyamanan bagi balqiz. cara tersebut terbukti efektif untuk memompa diri saya.

saya pernah merasakan emosi yang teramat 'marah' dimana hampir hampir saya tidak bisa menguasai diri saya, saat seseorang yang masih terhitung 'kerabat' memberikan pertanyaan 'apa kamu gak malu punya anak seperti itu?'

kalo aku telanjang, iya aku akan malu
tetapi memiliki balqiz? yang katanya 'seperti itu'? sama sekali tidak!!! saya amat sangat bangga memiliki balqiz.

sulit memang masalah 'menata hati' ini. tetapi harus dilewati dan dijalani.

ALLAHU AKBAR ~ Allah Maha Besar