Rabu, 27 Agustus 2008

Rawinala Sibling Gathering, part 3

kembali para siswa rawinala dan sibling menuju tenda tempat berkumpul. bergabung bersama seluruh peserta SIBLING GATHERING, menginjak sesi ke-3, sesi terakhir dari kegiatan SIBLING ini, adalah ajang Sharing,..

and then rawinala students and siblings back to the gathering tent. Joined with all SIBLING GATHERING participants, continuing with last session 3, “sharing”…



kembali acara dibawakan oleh Bapak Sigid Widodo, dimana para sibling diajak bernyanyi bersama, berdialog dengan mereka. di sesi ini memang tidak mudah untuk bisa memancing dialog dari para sibling, tidak terlalu mudah bisa mengorek ngorek apa yang mencari isi hati mereka. tetapi, yang menggembirakan suara para sibling adalah sama, bahwa mereka tidak pernah malu memiliki adik/ kakak yang mempunyai kebutuhan khusus. BRAVO SIBLING!!!


Mr. Sigit Widodo back to become a host of this program, he asks all siblings to sing and have a dialog. It was not easy to encourage sibling to have a dialog in this session, to find the true feeling of the participant about their situation. One thing is good of their feeling is their never feel shame to have blinds sibling. BRAVO SIBLING!!!




di akhir sesi ditutup dengan ungkapan rasa sayang para sibling kepada siswa rawinala dengan memeluk mereka,.. SO SWEET!!

End of session was close with hugging session, to express their feeling to each other. It was so sweet…..

Selasa, 26 Agustus 2008

Rawinala Sibling Gathering, part 2

Setelah seluruh kelompok selesai dengan sesi OM, dilanjutkan dengan sesi berikutnya yakni Pendampingan Makan. Sedikit alasan yang dapat disampaikan kenapa kita memilih setting Pendampingan Makan. Karena setting "makan" adalah sebuah setting yang pasti dilakukan bagi siswa rawinala maupun saudara kandung, juga oleh orangtua. Memang ada juga setting-setting lain yang juga sebuah "kebutuhan dasar" seperti "menggosok gigi" atau "memakai baju", namun sebisa mungkin kondisi/materi yang dijadikan setting, berupa kondisi yang "natural setting".

Finished with OM session. Next group session is “Meals Assistances”. We choose “Meal Assistances”, because “eat” is a condition that siblings and parents will do, and this is all a common and natural condition for all. There’s other conditions as a primary needs like “brushing teeth” or “wearing a clothes”.

direncanakan waktu pelaksaan sesi kedua ini sekitar pukul 10.00, nah pada saat tersebut, biasanya yang dilakukan oleh siswa rawinala adalah "snack time". itu juga yang menjadi dasar pemikiran tentang pengambilan setting "pendampingan makan". snack yang kita pilih kali ini adalah mie goreng.

Second session start at 10am, it’s a “snack time” for students. This activity was chosen because that is a snack time for Rawinala student, and we think that is a good time for “meal assistances”. Our selected snack for today is fried noodle.



jadi setiap kelompok yang sudah dibagi, siswa rawinala didampingi oleh sibling masing-masing menuju tempat makan yang sudah diatur. ada yang diruang kelas, ada juga yang di ruang makan asrama. masing-masing meja yang dipergunakan sudah disiapkan peralatan makan, berupa piring sendok gelas, dan hidangan mie goreng yang sudah tersaji. disinilah mulai proses sibling mendampingi makan para siswa rawinala.

Every students and sibling went to arranged dining table at the class room or boarding dining room. Spoons, plates and glass and fried noodle were managed on the table. This is the assistances process began




macam-macam reaksi yang muncul dalam pendampingan makan ini, ada yang antusias mengarahkan dimana letak makanan yang akan dimakan, ada yang cuek-cuekan, ada yang kikuk, ada yang bingung,..

We had many reaction came from this session, some of them look enthusiast, some of them don’t care and others looks confuse.

nah disinilah sebenarnya tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan "Pendampingan Makan" ini. Makan tidak hanya sekedar makan, tetapi bagi seorang tunanetra diperlukan trik trik yang tepat supaya "proses makan" berjalan sukses. disinilah seharusnya para orangtua dan terutama sibling dapat mengambil manfaat besar arti yang terselubung dari kegiatan SIBLING ini.

The Goals of meals assistances look clearly in this session, as they can see, meals is not just “meals”, for The Blinds, it needs a good tricks to make the meals process can run well. Parents and sibling can get big benefits from this SIBLING activity.


terbukti dengan berbagai macam reaksi yang muncul, dimana beberapa ada yang kebingungan, beberapa ada yang merasa kikuk, ini sebuah bukti bahwa orangtua belum sepenuhnya dapat berkomunikasi, belum sepenuhnya melibatkan, belum sepenuhnya mempersiapkan para sibling mengenai pentingnya pendampingan bagi saudara mereka yang tunanetra. bukan berarti juga bahwa setiap saat "tunanetra" harus didampingi, mereka tetap bisa beraktifitas secara mandiri.

It’ proven by many of reaction came, some of the participants look confuse and not comfort. This is proving that parents are not fully involved to prepare the Blinds sibling understands the meaning of assistances for their blind siblings. It doesn’t mean the blind has to assist every time, in the future they’ll be more independence.


perlu diingatkan kembali bahwa para siswa rawinala tetap akan kembali kepada keluarga. sekolah hanyalah sebuah fasilitas, dan sekolah juga bukanlah pusat tumpuan dari semua harapan. jadi jika sekolah mempersiapkan program program yang diberikan kepada sang anak/ sang siswa untuk membantu proses kemandirian, bukan berarti kemudian keluarga menyerahkan seluruhnya kepada sekolah, keluarga juga sebaiknya belajar berproses bersama dan mempersiapkan diri. terlebih lagi jika mengingat bahwa, tidak ada yang mengetahui sampai berapa lama usia seseorang,.. jika orangtua telah meninggal, siapakah yang harus siap mendampingi siswa rawinala? para sibling.

Things to emphasize for all parents those students of rawinala will back to their family. School is just a facility for them; they can’t rely on and put a big expectation on this school. School only provides facilities to help blinds become independence, not like giving all the family responsibility to school. Family has to learn this process together. Instead of God’s will of human age, parents is not only hope for the blinds, they have to prepare the blinds’ siblings in the future. Who’s gonna be sibling’s assistance for the future? The SIBLINGs


setelah makan, para siswa rawinala tetap didampingi oleh sibling, melakukan kegiatan mencuci peralatan makan yang telah digunakan. kegiatan ini masih merupakan bagian dari bina diri yang dilatih kepada para siswa rawinala. diharapkan kegiatan ini pun dapat diterapkan pula dirumah.

After meals, rawinala students still with their sibling assistances doing dishes. This activity is part of self development program for rawinala's student, and hope will be applied at home.


bersambung,..
to be continue,..

Senin, 25 Agustus 2008

Rawinala Sibling Gathering, part 1


Sejak rencana kegiatan SIBLING ini dicetuskan oleh pihak sekolah beberapa bulan yang lalu dan dipercayakan kepada PSG (parent support group) untuk mengelola acara ini, dan setelah mengalami beberapa kali penundaan waktu pelaksanaannya, Sabtu 23 Agustus 2008 telah terlaksana dan berjalan lancar. Alhamdulillah.

Since the school announce this program few months ago and delayed for couple times, finally… Sibling’s program held successfully on Saturday, August 23, 2008 organized by PSG (Parent Support Group). Alhamdulillah.

Pertanyaan pertama adalah; apa sih kegiatan "SIBLING" ini? kegiatan SIBLING ini adalah kegiatan yang diperuntukkan untuk para "saudara kandung" dari siswa rawinala. banyak proses pembelajaran yang bisa diperoleh dari kegiatan ini. Antara lain adalah sang saudara kandung bisa melihat dan mengenal lingkungan sekolah dari siswa rawinala. saudara kandung bisa merasakan apa rasanya menjadi seorang "siswa rawinala", saudara kandung bisa melakukan pembelajaran pendampingan kepada siswa rawinala. Inti tujuan dari kegiatan SIBLING ini adalah "penerimaan wajar" para saudara kandung terhadap siswa rawinala. Dan pada akhirnya para siswa rawinala akan kembali lagi kepada "keluarga".

First question: “what is SIBLING’s program”. designed for “siblings” of rawinala students. This program gave a lot of experiences for all participants. For example, siblings can feel the atmosphere of school’s environment. Siblings will have an experience like her/his brother/sister as “student of rawinala”. The basic idea of this program is to create a “normal acceptance” for the sibling’s. At the end, they will bring the habit of acceptance back to their family.


Walaupun sebenarnya, proses pembelajaran ini tentunya sudah diterapkan oleh para orangtua siswa rawinala dirumah. Tetapi rasanya akan berbeda jika mereka dikumpulkan menjadi satu, mempunyai sebuah kegiatan sendiri.

However, even this process has been implemented by parents at home; it would be different if they gather in one program.

Sejak pukul 07.30 sudah mulai berdatangan para siswa rawinala beserta "sibling" didampingi tentunya oleh para orangtuanya. Ada beberapa siswa rawinala yang memang tidak memiliki "sibling" tetapi tidak mengurangi kemeriahan acara, mereka bersama pendamping tetap bisa ikut serta dalam kegiatan.

Around 7.30am, the students & siblings come with their parents. Some of students have no “sibling”, but they can join the activity with their assistant.

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 pagi dibuka oleh Direktur sekaligus Kepala Sekolah Rawinala yakni Bapak Sigid Widodo.

Program started at 9am, With opening speech by Mr. Sigid Widodo as a Director and Head Master of Rawinala. SIBLING’s program divided into 2 sessions : OM and Meals Assistances, and for we create a team spread by 5 groups of ages.

Kegiatan SIBLING ini terbagi dalam 2 sesi. dan sibling di bagi dalam 5 kelompok berdasarkan usia. jadi ada kelompok yang masih sangat junior sekali 2-5 tahun, hingga kelompok yang dewasa sudah kuliah atau bekerja.

This groups devided to kids (2-5 years old), teenage and adult..


Sesi pertama adalah OM (Orientasi Mobilitas). pada sesi ini dibagikan Blind Fold/ Penutup Mata kepada para SIBLING. bagi yang ingin mencoba dipersilahkan menggunakannya, tetapi bagi yang tidak ingin tidak ada paksaan. Dannnnnnnn, diluar prediksi, ternyata hampir 90% para SIBLING tertarik untuk mencoba menggunakan Blind Fold tersebut!!! wow,..

1st session is OM.

On this session all siblings wore a Blind Fold, but if you don’t want to wear it, there is no force from school. Surprisingly, most of (90%) SIBLINGs interested to wear it. Wow!!!


Dengan menggunakan Blind Fold inilah, mereka kemudian menjalani GAME. ada 2 Game yang diberikan, yakni mencoba mengasah indera penciuman dengan diberikan beberapa bahan rempah-rempah yang harus mereka tebak apa nama rempah-rempah tersebut. ada yang benar menebak ada yang salah, ada yang tidak tahu. Seru sekali mendengar celoteh dan gelak tawa mereka.

Wearing Blind Fold, they start the games. First game is guessing the name of spices only by smell it. Some are right, some are wrong and some other event don’t know the spices. It was fun and great, listening kid’s babble and laughs.


Game berikutnya adalah pengenalan lingkungan. para SIBLING dibawa berkeliling komplek sekolah (masih dengan menggunakan Blind Fold), disinilah mereka belajar mengenakan/ melepas sepatu yang mereka pakai, mencoba berjalan dengan mengerahkan indera perabaan dan pendengaran. Ada yang tertatih tatih dalam berjalan, ada yang mantab berjalan, ada yang tidak mau lepas pegangan dari teman di depannya,.. macam macam ekspresi para SIBLING saat menjalani sesi ini.

The next game is environmental introduction. For all siblings we held school’s tour wearing a Blind Fold. They learn how to wear and take-off shoes, try to walk depend on their senses and hearings. Some are worried and hold their friends tightly so it won’t be lost. Some are walking firmly. We can see lots of expressions from SIBLINGs on this game.


Ya mungkin yang ada dalam benak mereka saat sesi ini adalah "o begini nih rasanya menjadi adik/ kakak-ku"

owh, this is what my sibling’s felt”… I think that’s the feeling on their siblings mind.



bersambung,..
to be continue,..

Rabu, 20 Agustus 2008

ramaditya

yang pertama kali menemukan profil ramaditya, rama, di internet adalah ayah utam, ayah bertanya apakah aku mengenalnya? belum!! dan dari profil itulah bunda mulai mengenal rama dan pada akhirnya bisa berkenalan dan bertemu langsung dengan rama.

rama adalah seorang penyandang tunanetra, sukses dengan sekolah inklusinya, dan saat ini selain berkarya sebagai motivator, rama adalah seorang game composer.

sosok yang sangat inspiratif buat bunda,... bunda banyak termotivasi setelah mengenal dirinya. kemudian disusul dengan berbagai macam sepak terjangnya dalam mengukir prestasi yang patut diacungkan jempol. besar harapan bunda, kelak dewasa balqiz bisa melangkah sukses mengikuti langkah sukses rama.


Insya Allah pada Sabtu, 30 Agustus 2008 pukul 14.00 - 16.00 wib bertempat di restoran Munik - Matraman, rama akan meluncurkan buku otobiografinya dengan tajuk : Blind Power, Berdamai Dengan Kegelapan.


saat ini buku tersebut baru akan diluncurkan dengan edisi "normal", untuk edisi Braille dan edisi Audio akan menyusul penerbitannya. Ayo para sahabat, sila meluangkan waktu dan menghadiri peluncuran buku otobiografi Rama ini,..


buat rama, bunda ucapkan selamat dan sukses terus melangkah!!

Selasa, 19 Agustus 2008

back to school, again

Alhamdulillah setelah 1 bulan sejak masuk sekolah setelah masa liburan yang cukup panjang, perkembangan balqiz semakin pesat. saat ini balqiz sudah tidak pake acara mutung bin ngambeg atau berulah saat masuk kelasnya. sudah tidak ada lagi adegan tangis menangis, tidak ada lagi adegan peluk erat tidak mau turun dari gendongan, sudah mau berjalan menuju kelasnya. dan udah gak pasang aksi "ndelosor" di lantai lagi,... horeeeeeeeee Thumbs Up. Sudah bisa menikmati kembali "senang" nya bersekolah. Bunda juga sudah mendiskusikan hal ini dengan guru kelasnya. dan puas dengan tindak lanjut yang diambil oleh bu Rini guru kelasnya balqiz. Terimakasih,..

cuma perkara bangun paginya aja neh yang terkadang masih suka diwarnai acara "gak mau!". udah bisa protes, udah bisa mengutarakan "gak mau" dan yang benar-benar "gak mau" sampai harus pakai acara paksa memaksa. bikin kepala bunda tumbuh tanduk 11 biji!!Devil

perkembangan motorik kasarnya juga semakin bagus, sudah bisa memasang puzzle sederhana, sudah bisa dengan lancar memasukkan balok pada tiangnya, sudah bisa menekan tombol, sudah bisa memutar tutup botol minumnya. sudah mau membaca kalender (circle time) kegiatan dan mengikuti keseluruhan kegiatan yang dijadwalkan buat balqiz.

kemudian sudah bisa berkata "tolong bu," disusul kata "terimakasih". sudah mulai mengerti konspe "maap". perbendaharaan lagu-lagunya juga semakin banyak, bahkan beberapa lagu bundanya malah gak ngerti itu lagu apa,.... dan ternyata o ternyata balqiz lagi seneng lagunya "sempurna-nya Andra" whuaaa..... bunda ndeso amat yak!! Bow Down


sudah bisa memilih sendiri jajanan yang dia pengen kalo sedang OM ke kantin sekolah. sekarang dia lagi seneng dengan kripik singkong,.. balqiz menyebutnya dengan "doyan". agak salah kaprah disini, karena untuk konsep "doyan" rupanya balqiz belum mengerti. asal muasalnya, saat balqiz diberi sepotong kripik, kripik itu agak pedas sebenarnya rasanya, tapi rupanya balqiz suka dengan sensasi "pedas"nya, karena takjub, spontan bunda bilang "balqiz doyan ya?" nah rupanya yang ditangkap oleh balqiz adalah kata "doyan" itu dijadikan sebagai nama "kripik singkong". sehingga jika balqiz ingin makan kripik, dia berkata "mau doyan!" "mau doyan!" waks,..

sedang berusaha meluruskan konsep "doyan" dan menyatukan dengan konsep "suka" kepada balqiz. dan terus terang hal ini bukan hal yang mudah buat bunda,.....Confused

ada yang bisa memberikan saran?