Selasa, Juli 31, 2007

mengenalkan makanan (part 2)


gak usah dijelasin manfat dari buah-buah, para bunda pasti udah pada tahu. dan memang harus mulai dibiasakan dari masa balita agar anak-anak menyukai buah dan sayur. tidak terkecuali dengan anak-anak tunanetra. yang membedakan bagi balita tunanetra hanyalah mereka tidak bisa melihat wujud asli dari buah/ sayur yang mereka makan.

kita bisa mengenalkan kepada mereka, dengan kembali mengajak anak belajar sambil bermain. contoh saya ambil disini adalah buah jeruk yang mudah di dapat dan harganya juga gak mahal serta bentuk dari buah jeruk yang sederhana.

siapkan sebuah jeruk utuh, kemudian, jeruk yang yang sudah terkupas, dan air perasaan jeruk.
posisi anak berada di pangkuan bunda berhadap-hadapan.
kita ajak anak meraba buah jeruk yang utuh dengan kedua tangannya.
kemudian kita kupas sedikit kulit jeruk untuk memperoleh kulit dan bau/ aroma jeruk tersebut kita rabakan kulit jeruk dengan tangannya dan ciumkan aroma/ bau jeruk tersebut.
kemudian kita cobakan kepada si anak buah jeruk yang sudah dikupas.
dan terakhir kita minumkan air perasan dari buah jeruk yang sudah kita siapkan.
lakukan sambil menerangkan apa yang sedang kita lakukan bersama si anak.

Senin, Juli 30, 2007

vonis ROP balqiz (part 1)

balqiz usia 26 hari
(pertama kali bisa mengendong balqiz, nyium balqiz &
melihat wajahnya tanpa selang NGT & O2)


balqiz & alifah di konsulkan kepada dokter spesialis mata (dr.W.Girsang SpM) pertama kali saat berusia 5 minggu (satu minggu setelah kehilangan adek tantri) . saat itu baik balqiz maupun alifah sudah keluar dari ruang ICU dan berada di ruang PERINA RSIA Hermina tetapi masih di dalam inkubator. hasilnya adalah alifah menderita ROP stadium I dan balqiz menderita ROP stadium III.

tidak puas dengan hasil tersebut, oleh dr.Idham Amir, SpA (K) mereka berdua di konsulkan kepada dr. Sjakon G. Tahija, SpM pada Jumat tanggal 28 Oktober 2005. menurut dr. Sjakon kondisi Alifah lebih bagus dan hanya diperlukan pemeriksaan rutin tanpa terapi apa-apa. Alhamdulillah pemeriksaan terakhir Alifah (tiga bulan kemudian) menunjukkan bahwa kondisi matanya sehat tanpa ada kelainan.

setelah memeriksa balqiz, tanpa berbicara banyak dahulu kepada ayah bunda, dr.Sjakon langsung menelpon Prof.dr. Ong Sze Guan di Singapore dan menjelaskan kondisi terakhir dari balqiz yang ternyata bukan stadium III tetapi stadium V. shock juga karena tanpa persetujuan ayah bunda dulu, dr.Ong segera memutuskan dalam 3 hari balqiz sudah harus berada di Singapore untuk operasi!!

whuaaaaaaaaa.... nangis di dalam hati, soale masih di dalam ruang periksa.
ada apa ini? ada apa ini?

dr.Sjakon menjelaskan apa yang sedang dihadapi oleh balqiz, bahwa balqiz sekarang sedang berpacu dengan waktu memerangi ROP-nya. jika kita berkeinginan untuk mencoba menolong balqiz, harus segera dilakukan tindakan operasi laser. dan kenapa harus di Singapore? dr.Sjakon sendiri sebenarnya bisa melakukan operasi tersebut dan peralatan yang diperlukan sebenarnya juga sudah ada di klinik beliau, hanya tetapi... SDM lain sebagai penunjang dari operasi tersebut yang belum ada. sehingga beliau menganjurkan untuk membawa balqiz ke Singapore.

seberapa besar harapan dari balqiz? 50 : 50!

kemudian ada resiko perjalanan. resiko apnoe (berhenti napas) karena otomatis balqiz harus lepas dari inkubator, harus lepas dari ketergantungan O2. memerlukan diskusi panjang dengan pihak rumah sakit mengenai segala macam resiko yang harus kita hadapi. kemudian harus juga bernegosiasi dengan pihak maskapai penerbangan; harus sewa O2 untuk prepare selama penerbangan; harus menandatangani surat bahwa jika terjadi sesuatu selama perjalanan berada diluar tanggung jawab maskapai penerbangan (whuaaa....!!)

tapi.... gimana dengan paspor balqiz?
pemeriksaan itu hari Jumat pukul 14.00 wib. sedangkan paling lambat hari Senin sudah harus berada di Singapore. whuaaaaaaaa.... nangis lagi! sementara wilayah rumah ayah bunda masuk bekasi jadinya ya imigrasinya kudu ke karawang sana. whuaaaaaaaaa.... gekmana ini?!!

satu hal yang patut bunda syukuri, begitu bunda keluar rumah sakit setelah melahirkan, bunda segera ngurus bikin akte kelahiran dan KK baru. jadinya pas kudu nyelesaiin administrasi imigrasi, balqiz udah punya akte dan udah masuk di dalam KK ayah.

tangan ALLAH SWT menolong, dan rejeki dari balqiz. udah gak jelas lagi jalurnya dari mana, pokoke dari teman ke teman, ke si A, si B, mpe si X, Y, Z akhirnya sampailah ujungnya adalah salah satu pejabat dari kantor imigrasi Karawang. akhirnya di hari minggu 30 Oktober 2005 setelah simlabim jadilah paspor balqiz, dengan fotonya yang masih ber-pose berada di dalam inkubator!!

mulailah dirancang skenario perjalanan dari Hermina dengan ambulance ke bandara Cengkareng. Alhamdulillah begitu banyak yang membantu, udah gak jelas lagi hubungannya si A si B-nya. mpe di atas pesawat pun, sang pramugari dan pilotnya adalah kawan dari sepupu bunda. benar-benar disitulah KUASA dan BERKAH ALLAH SWT benar-benar mengucur buat balqiz. SUBHANALLAH.

Senin tanggal 31 Oktober 2005 berangkatlah ayah bunda dan balqiz di dampingi oleh dr. Freddy Hutasoit dan suster Ellyn dari RSIA Hermina menuju KKH Singapore. Saat itu balqiz berusia 38 hari dengan berat badan 1200 gram. dan hanya beberapa hari saja menjelang hari raya Idul Fitri.

Minggu, Juli 29, 2007

mengenalkan organ tubuh

mengenalkan organ tubuh kepada balita tunanetra bisa dilakukan sambil bernyanyi. anak tersebut kita pangku menghadap ke arah kita dan sebelumnya kita ajak berbicara, kita peluk dan ajak bernyanyi.


kepala pundak lutut kaki lutut kaki
mata telinga hidung mulut pipi....


atau lagu ini juga bisa dinyanyikan :



dua mata saya, satu hidung saya,
dua kaki saya pakai sepatu baru

dua tangan saya, yang kiri dan kanan,
satu mulut saya tidak brenti makan....



sambil kita menyentuhkan tangan anak kepada organ tubuh sesuai dengan irama nyanyian.
tidak bisa hanya dilakukan hanya satu dua kali saja. kita coba berulang kali.
satu hal yang perlu diingat agar tidak memaksakan kepada si anak untuk belajar.
lakukan sambil bermain dan jika mood anak sedang baik.

Sabtu, Juli 28, 2007

ROP (part 2)

How many infants have ROP?

Today, with advances in neonatal care, smaller and more premature infants are being saved. These infants are at a much higher risk for ROP. Not all babies who are premature develop ROP. There are approximately 3.9 million infants born in the U.S. each year; of those, about 28,000 weigh 2¾ pounds or less. About 14,000–16,000 of these infants are affected by some degree of ROP. The disease improves and leaves no permanent damage in milder cases of ROP. About 90 percent of all infants with ROP are in the milder category and do not need treatment. However, infants with more severe disease can develop impaired vision or even blindness. About 1,100–1,500 infants annually develop ROP that is severe enough to require medical treatment. About 400–600 infants each year in the US become legally blind from ROP.

copied from National Eye Institute

Jumat, Juli 27, 2007

mengenalkan makanan

mengenalkan makanan kepada anak tunanetra, ceritakan kepada si anak bagaimana rasa dari makanan itu, manis, asin, gurih, asam, pedas. anak akan segera belajar mengenali berbagai rasa tersebut. ceritakan juga apa nama dari makanan yang akan diberikan dan bentuknya berupa apa. tidak perlu ragu untuk menyebutkan warna, mereka akan membentuk sebuah image mengenai berbagai warna tersebut. sentuhkan langsung makanan pada tangannya atau langsung menyuapkan ke mulut anak.


ini foto favorit bunda, alifah menyuapkan snack ke mulut balqiz

Kamis, Juli 26, 2007

ROP (part 1)

What is retinopathy of prematurity?

Retinopathy of prematurity (ROP) is a potentially blinding eye disorder that primarily affects premature infants weighing about 2¾ pounds (1250 grams) or less that are born before 31 weeks of gestation (A full-term pregnancy has a gestation of 38–42 weeks). The smaller a baby is at birth, the more likely that baby is to develop ROP. This disorder—which usually develops in both eyes—is one of the most common causes of visual loss in childhood and can lead to lifelong vision impairment and blindness. ROP was first diagnosed in 1942.


copied from National Eye Institute

Rabu, Juli 25, 2007

menuntun tunanetra

Jika cara anda menuntun seorang tunanetra tidak tepat, maka orang tunanetra itu tidak akan merasa nyaman dan anda sendiri akan merasa membawa beban yang berat. Tetapi dengan cara yang tepat, anda berdua akan membentuk "tim tandem" yang saling menyenangkan. Bagaimanakah cara menuntun yang baik itu?

Kontak Pertama:
Setelah (atau sambil) mengkomunikasikan tawaran anda untuk menuntun, sentuhkanlah punggung tangan anda ke punggung tangannya. Ini dimaksudkan agar orang tunanetra dapat mengetahui dengan pasti bagian lengan anda yang harus dipegangnya sebagai tumpuan tuntunan.

Cara Memegang:
Bukan anda yang memegang orang tunanetra yang anda tuntun itu, melainkan dia yang memegang lengan anda pada bagian di atas sikut, dengan empat jarinya berada di bagian dalam dan ibu jarinya di bagian luar lengan anda. Pegangan harus cukup kokoh tetapi seringan mungkin sehingga tidak terasa mengikat. Di sebelah kiri atau sebelah kanan? Tergantung kesukaan dan kebiasaan.

Posisi Pegangan:
Pada saat berjalan, lengan anda harus tetap lemas. Lengannya juga lemas, sikutnya bengkok membentuk sudut 90 derajat, berjalan di samping anda setengah langkah di belakang. Dengan demikian, dia akan merasakan gerakan jalan anda: cepat/lambat, naik/turun, belok/lurus, dsb.

Jalan Sempit:
Bila berjalan melalui jalan sempit seperti jalan di antara baris-baris kursi, pintu, pematang, dsb., yang tidak cukup dilalui dua orang yang berjalan berdampingan, tariklah lengan anda ke arah belakang punggung anda. Dia akan merespon dengan meluruskan lengannya sehingga akan berjalan satu langkah di belakang anda. Adalah penting bahwa lengannya tetap lurus selama berjalan seperti ini agar dia tidak menyandung kaki anda. Bila jalan sempit itu telah terlampau, kembalikanlah lengan anda ke posisi normal (di samping), maka dia pun akan merespon dengan kembali ke posisi semula.

Membuka/Menutup Pintu:
Pada saat berjalan menuju pintu tertutup, sebaiknya dia berjalan di sebelah engsel pintu. Anda yang membuka pintu, dan biarkan dia yang menutupnya.

Melewati Tangga:
Berhentilah sejenak pada saat anda tiba di awal tangga. Katakan kepadanya apakah tangga itu naik atau turun. Anda harus selalu berada satu anak tangga di depan. Berhenti sejenak lagi pada saat anda sudah tiba di akhir tangga untuk mengkomunikasikan kepadanya bahwa dia akan melewati anak tangga terakhir.

Melangkahi Lubang:
Anda harus selalu mengatakan kepadanya bila akan melangkahi lubang. Berhenti sejenak sebelum melangkah, dan anda harus melangkah lebih dulu agar dia dapat memperkirakan seberapa jauh dia harus melangkah.

Duduk di Kursi:
Untuk mempersilakannya duduk, rabakanlah tangannya ke sandaran atau tangan kursi, maka selanjutnya dia dapat mencari sendiri tempat duduknya. Jangan berusaha memposisikan pantatnya ke tempat duduk itu.

Naik Ke Dalam Mobil:
Bila pintu mobil tertutup, rabakanlah tangannya ke handel pintu. Bila pintu mobil sudah terbuka, rabakanlah tangannya ke tepi atap mobil itu atau ke tepi dindingnya bila mobil itu terlalu tinggi. Selanjutnya percayakanlah kepadanya untuk mendapatkan tempat duduknya sendiri.

Kepada tunanetra yang belum berpengalaman, mungkin anda perlu memberi lebih banyak penjelasan tentang arah perjalanan, maksud pergerakan anda serta tindakan apa yang anda harapkan darinya. Namun tak lama kemudian anda akan mendapati bahwa gerakan tubuh anda saja sudah cukup untuk menjadi media komunikasi yang efektif dan efisien.

disadur dari artikel Bapak Didi Tarsidi
ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia)

Selasa, Juli 24, 2007

17 september 2005

BALQIZ BAIKA UTAMI
putri kembar ke- 2 dari M. Rustam & Primaningrum A
RSIA Hermina Jatinegara - Jakarta
pukul 04.27 wib
berat lahir 920 gr ; panjang 34 cm